Posts

Kutu Telepon

Image
Duluuu sekali, ada teknologi yang namanya telepon umum. Berserakan di tepi jalan, dilindungi sebuah boks sederhana. Masukkan saja koin, tekan nomor yang ingin dihubungi lalu anda pun berkomunikasi. Praktis dan memudahkan. Tapi dasarnya bangsa Indonesia memang masih baru saja keluar dari gua dan berjalan dengan dua kaki, ada yang mengira boks telepon umum itu papan tulis sehingga mencoret-coretnya, ada yang mengirai boks telepon umum itu wc umum sehingga dikencingi dan dalam kesempatan yang cukup jarang diberaki, ada yang mengira boks telepon umum itu tempat sampah, banyak yang mengira boks telepon umum itu Anjungan Tunai Mandiri tempat anda bisa memasukkan sesuatu (biasanya kawat) untuk bisa mengeluarkan uang (yaitu koin rupiah receh). Lalu perusahaan telekomunikasi yang milik negara (karena menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak maka milik negara), menggalakkan pemasangan telepon rumah. Namun telepon umum tetap saja merupakan teknologi yang sangat penting saat anda ...

Penulis atau Pengarang?

20 oktober 2003 Suatu siang ketika masih SMA kelas satu, guru bahasa Indonesia saya berdiri di tengah kelas sebelum memulai pelajaran, dan mulai bercerita mengenai kawannya yang seorang penulis dan pengarang. Suatu hari waktu pulang sungkem pada ibunya masa lebaran, ibu kawannya itu berkata padanya, " Le, jadi orang jangan suka mengarang. Ngarang itu buruk. Dilarang agama. Dapat uang dari bohong itu haram. Menipu namanya" Kawannya itu tersenyum saja karena ia hidup dan makan dari hasilnya mengarang untuk dimuat di majalah-majalah dan koran. Entah kenapa Pak guru berkisah seperti itu. Cerita itu singkat saja tapi bertahan di otak saya lama. Terkadang menghantui pikiran saya seperti kabut samar yang mengganggu pandangan mata penderita katarak. Lalu saya mulai mengarang juga. Sebetulnya saya tidak memulai semuanya dengan menulis. Saya mulai dari membaca. Lalu saya kesal karena tidak ada kisah bohong (fiksi) yang sesuai dengan maksud saya. Selalu saja tokohnya kurang aksi, ...

Angkot Chronicle : Like it or not

19 Oktober 2003 Saya ini pengguna angkot budiman. Saya menghentikan angkot di tempat yang kurang lebih semestinya, tidak merokok meludah sembarangan di angkot, duduk rapi agar banyak tempat bagi orang lain, membayar dengan uang pas dan mengucapkan terimakasih pada supir setelah membayar. Harus demikian memang, karena saya sebal pada orang yang asal saja mengacungkan jarinya di ujung perempatan sibuk dan membuat macet orang sekampung sementara menunggu orang itu naik dan memposisikan dirinya sedemikian rupa di angkot. Saya juga kesal setengah mati pada orang yang merokok di angkot. Apalagi jenis yang dengan sok cuek duduk di sudut dengan jendela tertutup dan menghembuskan rokoknya seakan dia raja angkot seluruh Bandung. Saya biasanya akan berusaha membuat orang itu sadar bahwa apa yang ia lakukan mengganggu. Misalnya dengan memberi isyarat tubuh, batuk-batuk, menutup hidung saya dengan tangan, melambai-lambaikan tangan mengusir asap, atau memelototi rokoknya yang menyala. Mengatakan...

What is in a Name?

15 september 2003 Seorang kawan bertanya mengapa saya tidak pernah menggunakan nama saya sendiri untuk menulis sebuah cerita. Sebetulnya ada beberapa alasan saya tak memakai nama saya yang aseli. Pertama, bagi saya nama adalah doa. Sebuah harapan, sebuah makna, sebuah warna utama dalam kanvas kehidupan saya. Segala macam diri saya tergambar dalam pilihan huruf, ragam kombinasi, yang terbaca oleh orang yang "mampu". Padahal nama itu, entah bagaimana muncul di benak orangtua kita.Bisa jadi direncanakan dengan seksama, atau malah comot seadanya saja. Bisa jadi nama itu cocok sekali dan membawa hoki, bisa jadi nama itu salah untukmu. Kebesaran, keberatan, sebuah nama yang terlalu buruk atau malah terlalu agung untuk diri manusia yang secara kompleks sangat sederhana. Bila sudah terjadi demikian, biasanya dilihat melalui sejarah kesehatan si anak atau riwayat perilakunya yang sedikit kurang cocok dengan standar normal lingkunga, mereka berusaha menarik doanya kembali. Mengganti...

Intro

Image
Nama Mirna. Adzania. Perempuan. Tenggelam dalam seribu ilusi. Menyukai hal-hal yang kecil. Not a girl anymore since 4 years ago. Tidak penting. Sering tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Tidak menarik. Melompat-lompat dan disorganized. Just like half of the world’s population? Jadi yang perlu dipahami apa? Tidak ada yang harus dipahami disini. Isinya seperti kebanyakan halaman penuh coretan yang tersimpan di kamar, adalah ruwetan benang kusut yang sengaja ditinggalkan untuk pencatatan sejarah. The history of me! Buwahahaha...narsis itu memang sakit. What I Listen Ini penting karena kalau tidak ada musik entah jadi seperti apa hidup manusia. Saya suka musik tapi nggak suka Matematika, padahal seharusnya kesukaan atas dua hal ini berbanding sejajar. Orang yang suka musik biasanya mengalami peningkatan dalam kemampuan matematisnya. Weits...tergantung musik apa dulu yang didengarkan, begitu kan? BEATLES The Fab Four. Bukan maniak sangat tapi Abbey Road adalah album yang membuat...