Monday, November 02, 2009

Thirty Days and Thirty Nights of Literary Suicides


Tidak berhasil menyelesaikan tantangan program 90 Hari Menulis Novel, tidak mampu menaati tenggat waktu, tidak memiliki motivasi untuk menyelesaikan proyek besar lebih dari 10 ribu kata? Ya itulah saya.

Mendadak ada undangan menyasar di kotak surat elektronik dalam jejaring sosial daring. Isinya cukup bombastis: Ayo bergabung dalam acara Menulis atau Mati!

Horor?

IYA DONG!

Tapi ikut juga lah. Dengan lidah terasa pahit, jantung berdebar, kaki kesemutan, gelisah dan mual, mulai menulis lima halaman pertama di Minggu dini hari. Butuh waktu lima jam untuk menyelesaikan 1600 kata pertama. Tapi! Tertuliskan.

Hari kedua mulai jam 11 malam, dan 1600 kata tertuliskan dalam waktu 3 jam. Wah... lumayan. Tapi gak berani baca ulang sering-sering karena pasti hasrat ingin membabat.
hihihi

BAIKLAH!
Sejauh mana bisa bertahan?

Tuesday, October 06, 2009

Yang Kucari Tak Kutemu Di Sini (1000 Hari)

Lilin itu menyala di dalam gelas,
kecil,
sendiri.
Aku duduk menghadap jalan,
menghadap meja yang penuh
dengan daftar harga,
satu piring,
sejoli pisau sendok yang tak terpakai,
satu cangkir berisi teh jahe,
pasangan garam dan merica,
dan sebotol anggur lokal yang tak ingin dan tak bakal aku buka.

Setelah lewat seribu hari aku kembali ke tempat ini,
gagal menemukan jejak gelisah
yang dulu memburuku dalam perjalanan penuh mimpi.


Monday, September 21, 2009

Pengakuan Seorang Nyai



Menjelang subuh di pertengahan tahun 2000, saat menunggu telepon dari pacar yang tinggal di tanah yang berbeda waktu 4 jam dari negeri ini, mendadak saya memikirkan tentang tradisi. Beberapa hari terakhir ini, pemikiran itu muncul kembali, seperti kapal selam dari dasar palung terdalam bawah sadar saya.

Lahir dan besar sebagai orang Jawa dalam keluarga yang nampak liberal di pulau Jawa, saya tetap dikelilingi dan dibentuk dalam tradisi. Orang Jawa sangat menyukai tradisi. Segala macam upacara dan tata cara dalam hidup orang Jawa dilandasi berbagai simbol dan filosofi. Javanese are suckers for ceremonies and symbols, begitu kesimpulan saya.

Ibu saya sebetulnya jenis orang yang tak terlalu gemar upacara dan simbol-simbolan, tetapi sebagai seorang yang dididik secara akademis untuk menjadi skeptis, ibu ternyata bisa menemukan jawaban dan alasan yang rasional untuk beberapa upacara tradisi yang berlaku dalam adat Jawa. Misalnya ketika dulu saya pertama kali menstruasi, ibu tetap membuatkan bubur merah, walaupun tidak menyebarkannya ke tetangga dari ujung ke ujung jalan tempat kami tinggal. Beliau menjelaskan bahwa di masa lampau, bubur merah itu menjadi pengumuman ke seluruh desa bahwa di rumah si pengirim kini sudah ada seorang anak gadis yang sudah siap untuk dibuahi, sehingga seisi desa bisa turut menjaga si anak gadis. Sekaligus jika ada yang menaruh hati pada si anak gadis, bubur merah itu menjadi penanda bahwa kini si anak gadis sudah bisa sah untuk dinikahi karena sudah akil balig. Dari ibulah saya jadi sadar bahwa di balik semua upacara bertele dan tetek bengek tradisi yang kadang tidak rasional itu tersimpan suatu rasionalitas.

Seperti yang lalu saya pelajari juga di bangku sekolah dan kuliah dalam subjek Sosiologi, tradisi merupakan salah satu pengikat rasa kebermilikan, tradisi memisahkan antara "kita" dan "mereka". Melihat beberapa kasus nyata di sekeliling saya, tradisi juga yang menjadi semacam pelampung penyelamat atau malah jangkar penahan yang kuat saat individu mulai terekspos dunia di luar rumah orangtuanya, lalu seluruh nilai-nilai dalam hidupnya berbenturan dengan yang sesuatu yang dengan menterengnya disebut budaya global. Inti masalahnya cuma itu-itu saja: gegar budaya.

Pacar saya tahun 2000 itu dibesarkan dalam kebudayaan yang sama sekali berbeda. Buyutnya adalah migran, dan pohon keluarganya bisa ditarik hingga ke Erik si Merah, pelaut Skandinavia yang mendarat dan "menemukan" Greenland dan lantas merambah ujung Utara benua Amerika. Tradisi yang dia alami hanyalah sebatas kebiasaan yang berkaitan dengan agama, itupun tidak banyak karena kedua orangtuanya bukanlah penganut Anglikan yang fanatik. Pacar yang ini menganggap tradisi Jawa eksotik, sama seperti saya yang eksotik di matanya. AHAHEY! Dia tertarik dan terpesona pada tradisi Jawa yang saya ceritakan. Bahkan, sempat berkata jika kami jadi menikah dan punya anak, anak-anak kami akan dibesarkan dalam tradisi budaya Jawa. WAAH! Tapi, lima tahun kemudian saya putus dari pacar saya yang ini. AHAHAH.

Pacar yang sekarang dibesarkan dalam keluarga berlatar belakang tradisi budaya, yang jika dirunut terhitung cukup tua, kuno malah. Dia juga lama tinggal di lingkungan yang sarat dan kental budaya Jawa, di pusat pulaunya pula. Tapi, kebalikan dengan pacar saya yang dulu, dia tidak terlalu tertarik pada tradisi apapun. Sebagai pemberontak sejati, dia berusaha sebisa mungkin menghindar dari hal-hal yang mengikat, termasuk tradisi. Cool abis, kan?
Mungkin karena sekarang saya sudah mengalami lebih banyak hal dibandingkan saya yang 9 tahun lalu, atau mungkin karena saya sudah terlampau lama jauh dari keluarga, serta terlalu lama tinggal di kota besar, saya mengambil sikap yang lebih asing terhadap "akar budaya" saya sendiri. Sekarang buat saya budaya tradisional Jawa itu eksotik. Menarik untuk dilihat dan dialami seperti layaknya pelesir keluar kota. Singkatnya, kondisi lingkungan saya saat ini membuat saya merasa bahwa saya adalah manusia yang modern, yang global, manusia yang --meminjam dari istilah yang seringkali digunakan kawan saya-- tercerabut dari "akar budaya"-nya. Akademis, analitis dan sistematis, dingin dan berjarak.

Maka, lumayan canggung saya akhir pekan ini, menghabiskan perayaan lebaran 1430 Hijriyah di kota kelahiran saya, sesuai dengan tradisi. Mudik. Pulang untuk lebaran dengan pemikiran bahwa "mudik adalah tradisi" selalu membebani saya. Selama ini saya pulang untuk lebaran di rumah dengan satu motivasi: liburan dan pulang ke rumah orangtua.

Kemudian, selama mudik kali ini, sungguh terkejut saya ketika mendapati isi pikiran saya ternyata masih wacana tradisional: ingin dinikahi, ingin melahirkan anak sendiri, ingin mengurus rumah dan melayani suami. Pemicunya tentu saja interaksi dengan keluarga besar saya dan teman-teman sepantaran dari jaman sekolah di Surabaya. Ditambah dengan hormon (kambing hitam favorit saya), dan sepertinya dipicu juga dengan krisis usia (agak menyebalkan jika harus diakui, tapi terpaksa dimasukkan juga dalam daftar tersangka).

Ya tentunya saya masih punya banyak keinginan dan mimpi di luar hal-hal domestik tradisional itu, tapi kaget kan boleh-boleh saja. Saya agak kecewa karena ternyata saya masih termasuk mereka yang terjebak dalam sindrom dongeng putri raja (tujuan hidup: diselamatkan pangeran tampan dari kehidupan yang keras, menikah, dan bahagia sampai akhir hayatnya). Selebihnya saya pasrah, karena memang beginilah saya, tradisional. Heh, curiganya saya berhasil melewati berkali-kali gegar budaya sejauh ini justru karena saya ini tradisional.

Ibu saya mungkin akan merasa lega karena selama ini ia seringkali merasa gagal mendidik saya jadi wanita, wani ing tata. Di matanya dan mata banyak orang sejauh ini, saya seringkali berhasil kabur berkelit dalam hal keberanian untuk menata hidup saya sendiri (apalagi kalau harus menata hidup orang lain, AHAHA!). Tapi ternyata tidak. Ternyata saya masih Jawa. Masih perempuan. Saya menyadarinya, dan masih bisa berusaha berpikir di luar kerangka tersebut. Jadi, saya akan baik-baik saja. Masalahnya hanyalah, saya tidak tahu harus mulai bercerita dari mana pada beliau.












NB: Nanti, saya ingin menamai anak saya Salvation, lalu kalau dia perempuan, tidak akan saya biarkan dia membaca dongeng-dongeng putri raja yang menyesatkan itu.

Sunday, September 06, 2009

Hot Air Balloons


I know something is being shown to me, discreetly, subtly, indirectly. I know this, but I cannot guess what it is yet, that something that is being shown to me.

I know how it feels like. It felt like I've crossed a point where a loop is being completed. A perfect circle. Albeit small, but the loop is finished. Time to move on. Start another loop. It doesn't have to be big, everything started minuscule. Like atoms.

I know what I need to feel now. I need to soar and surrounded with warmth. I have the warmth, all I need to do is let go of the sandbags, the baggages that are holding me back, and rise.


Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC by E.S. Ito

Mengandung spoiler. Kalau kamu gak suka spoiler, gak usah diteruskan. Jangan misuh-misuh belakangan.

Resensi lengkap mungkin akan dibuat dan diunggah saat buku sudah rampung dibaca. Saat ini baru sampai halaman 235. Akan tetapi daripada tidak ada, berikut ini adalah berbagai coretan yang saya buat di halaman-halaman buku dengan menggunakan pensil.

Halaman 87: Karakter Guru Uban ini terlalu jelas dibuat sombong dan angkuh, hitam putih. Sepertinya akan condong pada sesuatu yang hitam.

Halaman 102: Cathleen lebih terdengar Amerika daripada Belanda, baik dari segi nama maupun gerak-gerik yang dideskripsikan.

Halaman 121: Dari semua karakter sejauh ini hanya Batu yang terbentuk lebih utuh, alami dan manusiawi (dalam artian 'believable').

Halaman 125: (re: Cathleen) perempuan ini mahasiswi sejarah, spesialisasinya apa bisa dikesampingkan, kenapa dia harus digambarkan sedemikian butanya tentang Suharto?

Halaman 129: Bab 13 ini seluruhnya bisa dihilangkan tanpa terlalu mengganggu keseluruhan buku.

Halaman 140: (re: Robert, Rafael dan Erick) Dari awal buku ketiga orang ini masih saja berbentuk cetakan datar dua dimensi. Perdebatan mereka terasa datar dan percuma karena mereka hanya dipakai untuk membeberkan pengetahuan penulis tentang berbagai trivia tentang era Perang Dunia II.

Halaman 152: Rasanya gaya bahasa yang digunakan terlalu seragam untuk semua karakter.

Halaman 163: Kenapa bule Belanda ini tidak memakai Mac seperti bule2 Belanda kebanyakan? a. Mungkinkah karena aplikasi software yang digunakan untuk membuat peta dan macam-macam itu tidak ada untuk Mac? b. Mungkinkah karena penulis tidak pernah berkenalan dengan Mac? :P

Halaman 169: Banyak paragraf yang percuma seperti paragraf penutup bab ini :(

Halaman 186: Mereka tidak minum untuk menghangatkan tubuh, they drink to unwind, they drink to celebrate.

Halaman 204: Honda Jazz and NO CELLPHONES? settingnya tahun berapa sih ini?

View all my reviews >>

Saturday, September 05, 2009

Sometimes the Old Ways are Better

I was standing in a queue for Pak Min's Chicken Soup this evening when I saw this guy in front of me handed something over the counter. It was a tin container. He was going to bring the soup home.


I can't remember when exactly was it the last time I brought a tin container from home to buy and bring home the food. Nowadays it's always plastic plastic plastic. Hot food, cold beverages, almost everything uses plastic.

I have been trying to return to the forgotten habit of the era before Twitter, Facebook, heck even before Friendster and mIRC; going shopping carrying a shopping bag from home to reduce plastic bags. Which means the going shopping itself has to be carefully planned, so I can bring the shopping bag :D. Not a bad idea for times of crises like nowadays, when all prices goes sky rocketing and would never ever touched down anywhere.

Now I'll just need to start bringing food containers when buying food out.

By the way, in the blog where I took the photo of rantang, I also found this thing that I had wanted for quite sometimes now. :)

Friday, September 04, 2009

Small Things Matter, at Least for Me

We were going to the supermarket to stock his fridge with food yesterday. The traffic was brimming, in anticipation of the adzan at approximately a quarter to six, when the streets would suddenly be empty for a little while people are in a hurry to break their fasting.

Waiting for the traffic light to turn green, I snuggled my face to his left shoulder. It smelled so good.

"Which pile did you take this t-shirt from?"
"What?"
"Did you take it from the laundry plastic bags or from your dresser?"
"Dresser."

That was me. The stack of his clean t-shirts in his dresser, I did those for him. I made him smell good :)

Thursday, September 03, 2009

Euforia Sakit Kepala

Karena kepala sakit jadinya nggak bisa mikir pake bahasa Inggris ataupun Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Maka dari itu, jika dalam jurnal kali ini terjadi pencampuran bahasa yang semena dan ketidak-konsistenan istilah, biarkanlah berlalu dari kesadaran. Amin.

Semua dimulai agak pagi hari ini karena ada yang mengusik tidur dengan mengkitik-kitik telapak kaki dan mendorong-dorong betis (dengan cukup brutil) buat ngebangunin. Memang sih, memang, minta dianterin beli tiket, tapi sungguhlah upacara pembangunan itu agak barbar. Mata masih lengket karena baru bisa tidur jam empat menjelang adzan Shubuh.

Singkat cerita, kecemasan bahwa tidak akan dapat tiket tidak terbukti karena setelah mengantri di belakang 12 orang, akhirnya tiket pulang pergi ke kota kelahiran sudah di tangan. HAHAHA! YA! AKULAH SI GADIS KOTA!

Aku bukan gadis desa! eh yang nancep di ubun-ubunnya itu apa ya, kok digdaya sangat nampaknya...

Selepas itu kami pergi ke supermarket untuk menumpuk bahan makanan karena menjelang lebaran selalu harga-harga menanjak tanpa sungkan pada kaum berpenghasilan rendah dan tak menentu. Selepas itu si omJ berpamit pergi ke arah Selatan.

Hari ini puasa. Walaupun batin mengatakan, malas bos. Perut mengatakan, perih bos. Pikiran mengatakan, kayaknya maag kambuh deh bos. Nyaris batal sewaktu di dapur seusai merapikan itu bahan makanan di wadah masing-masing, lantas terpikir, indomih goreng asik ni bos sama teh manis anget. Tapi Tuhan mencintai saya, maka saya menemukan itu bungkus indomih goreng instan sudah di tempat sampah. Dua-duanya. Kayaknya sambil nunggu mata saya melek atau pas saya lagi luluran di kamar mandi tadi ada yang berkegiatan ekstrakurikuler makan mi. Hiks. Padahal indomih goreng instan itu ya tinggal dua itu aja adanya. Sisanya cuma rasa kari ayam, rasa sop tomat pedas, rasa ayam sepesial, dan rasa semur pedes.

Karena dititipin masak, oh tapi ngantuk, bobo dulu sebelum masak. Jam tiga kurang sebelum adzan Azhar kebangun, nyalain laptop dan online, barulah ke dapur dan memasak. Abis itu... buka fesbuk. LHO APA INI?

7.3 skala richter, kedalaman 30 km di dasar laut episentrumnya


Semua status update berbunyi "GEMPA". Bagaikan echo yang tak berhenti-henti sampai kurang lebih 4-5 halaman. Plurk juga ramai walaupun isinya lebih variatif. Katanya di Jogja juga terasa. Selain Tasikmalaya yang jadi pusatnya, Jakarta terguncang dan isi gedung-gedung tinggi metropolitan itu bubrah ke jalan-jalan. (ada yang senang: HORE PULANG CEPAT!) Bandung goyang juga. Konon terasa sampai Semarang. BMG sempat mengumumkan siaga Tsunami, yang untungnya nggak kejadian jadi siaganya dicabut lagi. BMG juga mengumumkan bahwa terjadi gempa susulan 6 dan kemudian 5 skala richter. Cilacap juga kena parah. Inalillahi roji'un!

Tapi.... kok gue gak ngerasa apa-apa ya? :\

Tapi karena lebay, jadinya nelpon omJ. Dia bilang memang kerasa, agak lama, bohlam lampu berayun. Buset? Kok gue gak ngerasa ya? Gue kan gampang mabok kalo goyang-goyang dikit. Apa gue saking konsennya merajang bawang dll tadi? Eniwey, untunglah orang yang gue kenal kayaknya gapapa. Tapi kayaknya orang-orang pada euforia. Sampai tengah malam yang diomongin masih berkisar gempa. Paling enggak orang-orang Jakarta lah...

Menjelang buka omJ muncul. Lapar, nek, lapar, nek. Terus karena gue merengek pengen nonton akhirnya kami pergilah, berbuka di bu Joko :) Alhamdulillah. Abis itu pergi ke Bioskop termewah di Jogja dan membeli dua tiket nonton District 9. Sambil nunggu, meskipun yang dalam kepala sudah mengingatkan "Maagnya bos. Maag", kami berdua beli kopi, dia hitam, saya ditambah krimer. Disruput pelan-pelan sambil merokok. Masih sejam lagi sebelum masuk ke teater. Kopinya murah, ternyata karena... harusnya lebih murah lagi. CUIH. Tapi gapapalah, untung masih ramah di lidah (dan terbukti keji pada lambung dan pencernaan).

Kelar nonton, gue euforia. Rasanya hampir sama, (hampir ya, bukan sama banget) hampir sama kayak waktu kelar nonton film Matrix dulu. HAHAHA. Sampai sekitar 3 jam abis nonton (sekarang ini, sambil nulis entri ini) masih agak berbayang di kepala dan terdengar lamat-lamat "ANJROOOOTTTT!!" sebagai latar belakang bayangan itu. Nantilah resensinya, kalau isi kepala udah kembali meriah seperti sedia kala. Amin.

Nah, sekarang, kembali ke sakit kepala. Besok aja lah ya.

Ohiya.
Lupa bilang selamat ulangtahun buat suami tercinta! :"> Happy Birthday, Keanu. Semoga dilimpahi karunia dan barokah dari Tuhan. Muwah!

Mmh, ai lap yu