About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.
Touch down! Mukanya gak menyiratkan drama mabok enterwind subuh buta

Kurang asiknya transportasi di Bali adalah, susah cari angkot. Sudah ada sistem busway yang bernama Trans Sarbagita, dan informasi rute-rutenya bisa dicari online. Berhubung kondisi cranky dan spanneng karena masuk angin dan lelah batin, saya memilih untuk naik Uber dari bandara ke Kuta. Baru kemudian dari Kuta ke Ubud naik shuttle bus. Nggak langsung dari Bandara ke Ubud karena kami mendarat sekira jam 8:30 WITA dan jam check-in ke penginapan adalah jam 2 siang, agak males nungguin lama buat check-in. Selain itu mabuk akibat masuk angin harus diredakan dulu.

'Masir dulu
Jadi, kami nongkrong makan dulu, baru kemudian pergi ke kantor Perama Kuta. Kenapa Perama, karena ini adalah juga perjalanan semi nostalgila saya. Atau bisa juga karena saya kudet sih, soalnya tahunya cuma Perama. Hahahak. Sesudah beli tiket untuk perjalanan jam 12, saya dan si monster kecil leyeh-leyeh sebentar, kemudian jalan kaki ke pantai Kuta. Jaraknya hanya sekira 10 menit jalan kaki dari kantor Perama.

Perjalanan shuttle bus dari Kuta ke Ubud makan waktu kurang dari 90 menit. Karena anaknya rada kapok muntah-muntah, dia minta dipangku, dan mau merem sepanjang jalan. Tapi nggak bener-bener ketiduran, semacam hanya tidur-tidur ayam. Kantor Perama dekat sekali dengan penginapan kami selama di Ubud, hanya 5 menit jalan kaki. Lalu duduk menunggu selama 10 menit dan kami sudah bisa masuk kamar.

Tampangnya kusut

Selama di Ubud kami jalan kaki, atau naik motor sewa. Ada satu hari di mana kami jalan-jalan ke Tampaksiring naik mobil bersama keluarga teman. Tantangan transportasi masih bisa dijawab dengan motor sewaan sih. Tapi ya itu tadi, karena semi staycation kami akhirnya memang gak banyak keluar penginapan. Masa tinggal di Ubud yang 3 hari itu berbarengan dengan Spirit Festival, menyebabkan jalanan dipenuhi oleh turis yang beraroma spiritual. Toko-toko di pinggir jalan dipenuhi aksesoris yoga dan spiritualisme oriental. Saya yang tadinya bersemangat ingin mencoba kelas yoga di yogabarn (tinggal nyebrang) malah jadi ilfil. Salah satu rancangan petualangan ke Bali Zoo juga batal akibat drama mabok masuk angin. Plus, ternyata ada orderan masuk, walhasil di hari terakhir kami di Ubud, saya malah kerja. Alhamdulillah.

Hari keempat kami turun dari Ubud menuju Canggu, di mana saya ikut patungan rame-rame sewa sebuah villa untuk melewatkan Nyepi. Kami naik satu motor bertiga. Seperti yang sudah diperkirakan, semakin besar si monster kecil, harus ada upaya lebih untuk merencanakan transportasi. Untung jaraknya nggak begitu jauh, sekira satu jam perjalanan.



Berhenti dulu karena kepisah dari rombongan dan punggung dan pantat pegel

Tapi beneran, lebih baik naik motor daripada mobil kalau di Bali mah. Rentan macet sebab jalan kecil-kecil dan ya... tergantung juga sih arah dan tujuannya. Moda transportasi motor bertiga ini masih dipakai sampai kami geser dari Canggu ke Sanur untuk hari terakhir liburan, dan dari Sanur ke Bandara menuju pulang ke Jogja.

Untuk liburan berikutnya, saya mungkin harus mempersiapkan dengan belajar nyetir mobil dan bikin SIM A dan C. Gak punya SIM sangat membatasi alternatif kendaraan untuk mobilitas mandiri.

Have Child Will Travel: Nyepi Holiday Adventure (2)


Bulan Maret 2017 saya dan si monster kecil pergi berdua saja ke Bali dalam rangka memenuhi ambisi saya merasakan Hari Raya Nyepi di Bali, setidaknya sekali dalam seumur hidup. Si bapak gak ikut karena harus jaga warung dan manyun, dan berangkat sepedahan sendiri ke Bali di bulan Juli.

Kunjungan kali ini adalah kedua kalinya buat si monster kecil. Tiga tahun sebelumnya kami sudah pernah membawa dia ke Bali, selama 10 hari kami naik motor bertiga singgah dari satu tempat ke tempat lain dengan rute: Kerobokan, Ubud, Amed via Bedugul, Nusa Lembongan via Sanur, dan berakhir di Jimbaran. Tapi waktu itu dia masih pendek. Sekarang selain besar dengan kakinya panjang menjuntai, dia sudah tak bisa tenang duduk bertiga di atas motor untuk perjalanan jauh. Dulu sih motor baru jalan lima menit dia sudah tidur nyenyak. Sekarang, beuh...

Tadinya saya bercita-cita ambil jalan darat dengan naik kereta estafet dari Jogja ke Surabaya, lalu dari Surabaya sampai Banyuwangi,lalu menyeberang selat dengan ferry, dan naik bus sampai Denpasar. Tapi kemudian saya bubarkan saja cita-cita itu. Seiring bertambahnya usia, monster kecil saya sekarang semakin mandiri dan berlatih mengambil keputusan, dengan kata lain aneka hal jadi ribet karena saya punya agenda dan jadwal tetapi anaknya sibuk membantah. Thug lyfe.

Meski sejak bayi sudah biasa bepergian jarak sedang dan jarak jauh dengan kereta api, keahlian bersilat lidah membawa isu baru yang demi Toutatis tadinya saya kira saya akan terhindar darinya.

"Mak, kita kapan sampainya?"
"Mak, kita turun di sini ya?
"
Sepanjang perjalanan kereta api 5 jam dari Jogja ke Surabaya, hampir tiap 30 menit saya dengar ini. Padahal sudah saya bawakan buku bacaan, buku mewarnai, aneka snack, minuman, musik, atau film. Tetep aja yah, nanya muluk.

Perjalanan kereta api dari Surabaya ke Banyuwangi makan waktu antara 6-8 jam, tergantung kelasnya. Daripada saya spanneng padahal petualangan baru dimulai, lebih baik jalur berikutnya saya menghindari kereta api dulu. Jadilah kami naik pesawat dari Surabaya ke Denpasar.

Tapi namanya emang bertualang tuh harus ada bumbunya yah. Karena saya merencanakan naik shuttle dari Kuta ke Ubud, lebih baik berangkat pagi daripada sore. Risikonya, penerbangan pertama akan mewajibkan kami berangkat dari rumah jam 5 pagi. Masih bisa diatur karena toh bawaan kami masing-masing adalah 1 ransel dan 1 tas selempang.

Yang terjadi adalah, monster kecil baru mau tidur jam 10 malam. Ketika saya bangunkan jam setengah 5 dia cranky. Di taksi dia bikin drama dengan menolak AC dinyalakan tapi membuka jendela lebar-lebar, yang menyebabkan kemudian dia masuk angin betulan, dan muntah ketika taksi merapat ke tempat menurunkan penumpang di bandara.

Meski datang dengan jarak waktu aman dari masa boarding, ternyata antrian penerbangan terpagi adalah bagaikan pasar. Si monster kecil menolak bekerjasama minum tolak angin dengan alasan pedas. Jadi kemudian di pesawat dia muntah lagi. :: hela napas paaaanjaaaang ::

Dari awal saya nggak punya ambisi besar dengan menyusun itinerary padat acara, bahkan untuk penginapan saya sengaja pilih yang bisa staycation seandainya shit like this happened. Biarpun sudah antisipasi, tetep aja cranky little monster dan mamak monster spanneng adalah bukan kombinasi yang tepat untuk acara petualangan bertema chill out and relax.

Drama masuk angin, gak mau makan, dan manyun berlangsung on-off selama kami di  Bali. Untung gak pakai demam, sih. Dan kami masih bisa jalan-jalan ke beberapa tempat menarik.

Have Child Will Travel: Nyepi Holiday Adventure (1)

Yang namanya PROSES nggak ada yang namanya 100% instan. Untuk bisa instan sekali seduh jadi itu pun diperlukan proses pembuatan di pabrik. Manufakturan, gitu lah istilahnya.

Begitu pula yang namanya orang gak ada yang ujug-ujug sehat lahir dan batin kalau gak ada usahanya. Mempertahankan supaya tetap sehat itu juga ada usahanya. Apalagi dari kondisi yang sudah tidak atau kurang sehat, menjadi kembali sehat.

Proses itu terjadi dalam setiap aspek hidup lah ya. Bertumbuh sendiri juga proses. Ya kali begitu lahir langsung jambros dan giginya 32 bijik. Mulai dari 0 nggak hanya terjadi di tempat beli bensin, kakak.

Tapi, tapi nih, susah ngebahas soal proses sama orang yang sebenernya gak paham tentang konsep proses tersebut. Orang itu bisa aja cuap-cuap dan membagikan aneka artikel di media sosial pribadinya tentang pertumbuhan, perkembangan, keikhlasan, kedewasaan, psikologi sosial, dan aneka teori lain yang mengesankan pemahamannya tentang proses. Dan seperti yang kita tahu, kadang-kadang kesan dan kenyataan itu bisa berbeda 180 derajat.

Lebih payah lagi kalau ingin membahas konsep proses sama orang bertipe berat di kesan ringan di kenyataan, DAN logika berpikirnya di luar kebiasaan normal. Kreatif dan out of the box sih, SEANDAINYA berada dalam koridor produktif.

Kalau produktif cuma di omongan dan nol patah di kerjaan, masuknya kategori Nafsu Besar Tenaga Kurang, atau No Action Talk Only, atau Omongan Doang.

Saya tahu menanggapi dengan emosi orang-orang semacam ini adalah sia-sia. Mau diajak diskusi nggak bakal bisa, wong kurang setetes. Baiknya dijauhi saja. Atau kalau kekuatan mental dan jiwa kita sudah teruji, boleh ditegur diajak bicara. Namanya juga usaha membawa kebaikan. Walaupun kebaikan itu sebetulnya relatif juga, karena kita tidak Maha Tahu dan kadang ada gambaran besar yang luput dari pemahaman kita.
Setdah... Saya udah kayak Mamah Hedeh belum?


Setelah menjabarkan sisi kepala saya yang agak waras, berikut adalah sisi kepala saya yang guncang maksimal. Saya kesal, dan juga ketawa, ketawa sebal, lantaran ada yang menyebarkan pandangan bahwa kebiasaan olahraga saya itu semata-mata adalah gaya. Saya heran juga kenapa saya kesal, toh saya sudah bisa menebak cibiran semacam apa akan keluar dari mulut yang mana. Bukan weruh sedurunge winarah, hanya saja memang mudah menebak kelakuan orang yang polanya gitu-gitu aja.

Kemungkinan ini akumulasi sih. Energi cukup negatif selama hampir tiga pekan. Selain fisik yang drop, sempat lemot seminggu, lalu setelah energi perlahan-lahan kembali isi kepala saya kok seperti mampet.

Empat hari kemarin secara fisik saya sudah bergerak kembali, tapi kepala mampet ini harus diluruskan. Makanya saya muntah jerapah di sini saja.

Kembali ke ketawa sebal tadi, pencibir tadi kerap memberikan kesan bahwa ia hidup sehat. Berolahraga, makan enak, hati gembira, dan seterusnya. Seimbang lahir batin. Kesannya. Realitanya olahraga yang dilakukan adalah, entah apa. Tidak bisa berenang. Tidak mau bersepeda karena takut lalulintas di jalan. Tidak mau melompat atau berjalan apalagi lari karena flu, tekanan darah rendah atau baru kambuh sakit maag. Konon gemar betul menari tetapi susah menari karena nanti sakit pinggang. Kalau yoga, sudah pernah dulu, tapi buat apa, sekarang isinya cuma ajang gaya dan selfie semata.



Nah kan.
Saya sempat bingung kenapa saya kesal sekali. Wong saya sadar saya ini poser. Dan saya tahu mulut yang satu itu percuma didengarkan. Manfaat dari mendengarkannya hanyalah untuk melatih pengendalian diri dan kemampuan welas asih.

Sambil muntah jerapah begini, saya pikir-pikir ulang. Iya sih, yoga itu gaya. Gaya hidup. Latihan di matras akan mencerminkan cara berpikir dan bertindak di luar matras, dan sebaliknya.
Setdah... Saya udah kayak hipster yoga belum?

Namaste.

Muntah Jerapah

Kalau dipikir-pikir, sebetulnya saya kenal yoga sudah lama.
Saya mulai beryoga dengan intensitas sesekali pada saat hamil. Meningkat menjadi jarang setelah si bayi sudah lahir dan bisa duduk. Meningkat menjadi cukup berkala dua tahun lalu.

Saya pernah baca, banyak orang melarikan diri dalam yoga. Sepertinya saya salah satu orang yang melarikan diri dengan yoga. Saya tahu saya harus bergerak lebih banyak, tapi saya benci berkeringat. Olahraga kesukaan saya sebetulnya adalah berenang, you don't feel like you're sweating while you're in the water. Tapi berenang membawa balita itu mengakibatkan balita senang, saya tidak bergerak, karena saya harus mengawasi balita. Daripada mengeluh, lebih baik kita mencari cara untuk bergerak kan? Jadi, saya lari ke yoga. (Padahal ternyata yoga juga membuat saya berkeringat hebat)

Saya mengira yoga akan memberikan juga ketenangan.



Saya punya kecenderungan cemas berlebihan. Sangat tidak produktif. Sangat menyebalkan. 

Saya juga punya masalah dengan temperamen. Masalah besar. Apalagi kalau berhadapan dengan balita. Saya dulu sempat berpikir positif, mungkin kalau berhadapan dengan balita yang saya lahirkan sendiri, saya bisa lebih kalem. Ternyata enggak. Sejujurnya, saya suka anak-anak, saya hanya kurang sabar berhadapan dengan balita. Lebih tepatnya bocah usia 4-7 tahun. 

Jadi, saya lari ke yoga. Belajar napas. Belajar sabar. Belajar pasrah. Beberapa pose yoga membantu saya saat melahirkan. Jadi, kenapa enggak kita coba yang lebih serius? Mungkin saya bisa lebih biru atau ungu dan tidak sehijau biasanya. Mungkin saya bisa jadi ibu yang lebih ideal semacam ibu-ibu bidadari bijaksana versi majalah dan buku parenting.

Ketika kesehatan ibu saya mulai menurun 3 tahun lalu, saya meningkatkan frekuensi beryoga. Saya semakin ingin lari. Saya sampai beli matras sendiri.

Saya nggak bisa bilang, yoga membantu saya melewati masa-masa ketika kesehatan ibu saya makin pudar. Kecenderungan saya yang pencemas membuat proses berduka saya dimulai jauh-jauh bulan. Lebih jauh dari yang diketahui kebanyakan orang. Ini yang membuat ada orang mengira saya tidak melalui masa denial dan anger menuju acceptance ketika ibu saya meninggal. Ada yang mengira saya hebat betul langsung bisa senyum dan nampak cuek sehari setelah ibu berpulang. No shit, Sherlock, incredible deduction you made there.

Sejak kembali ke Jogja saya berpikir, saya harus lebih banyak lagi bergerak. Dan saya masih lari dari kenyataan, diri saya sendiri, dan entah apa lagi. Saya makin sering ikut kelas yoga. Saya berlangganan akun-akun yang berafiliasi dengan yoga pada media sosial. Saya berubah menjadi semacam penggila yoga. Hanya semacam saja. Jangan-jangan sebetulnya saya cuma poser. 


Poser

If you think you inspire me, which in some ways you actually do, it is mostly not on how you think on what you think. I actually cannot be bothered to correct you. I need the energy to correct myself. Besides, correcting you is not what I seek. As I also do not seek to be "stand corrected" in your eyes. Because, actually, your opinion does not matter to me. You do not hold that power against me.

The subject of our envies and angers is different, this I am absolutely sure. It is a personal kind of monkeys, personal kind of circus, personal kind of burdens on the shoulders of the conscience. So good luck with yours.



The Reciprocated Envy