Olah Ganti Busana
Ini adalah postingan yang nyombong. Saya heran mendengar ibu-bapak lain di luar sana yang mengaku sampai berkeringat dan ngos-ngosan pada saat ganti popok dan ganti baju bayinya. Kok bisa? Apalagi kalau bayinya berusia kurang dari 4 bulan, masa di mana kerjaan dia cuma tidur, pipis, eek, dan bangun untuk minum susu.
Kecuali akhir-akhir ini, di mana si Kunyit sudah mulai bisa guling-guling dan merambat dari duduk ingin berdiri, saya tidak pernah sampai kewalahan dalam memasang dan melepas baju bayi. Pun berganti popok.
Saya lebih kewalahan saat memandikan Kunyit. Terutama setelah dia mulai bisa lincah di atas usia 2 bulan. Dia punya kecenderungan kuat untuk menendang-nendang gembira, alias berenang gaya punggung dalam bak mandi di saat saya masih sibuk membilas sabun dari badannya. Yang cukup kuat melayani keinginan berenang si Kunyit adalah bapaknya. Pergelangan tangan saya seringkali cedera kerja akibat menggendong dia dan kerap tidak kuat menopang sementara dia meluncur-luncur menendang-nendang ujung bak mandi. Apalagi kalau jadwal mandi pagi.
Tapi, memakaikan baju, itu mudah sekali. Sebagian besar baju bayi baru lahir berkancing depan. Tipe ini paling mudah dipakaikan. Tingkat kesulitan berikutnya adalah baju berkerah tanpa kancing. Kancing cetekan alias snap lebih mudah diatasi daripada kancing biasa. Saya sudah mahir memasangkan kaos lengan pendek tanpa kancing bahkan sebelum Kunyit berusia sebulan. Tanpa berkeringat. Tanpa percobaan panjang sebelumnya.
Saya memandikan sendiri si Kunyit sejak hari pertama dia pulang dari Rumah Sakit. Saya mengganti sendiri popoknya. Saya menepuk-nepuknya agar sendawa. Bisa dibilang hampir tanpa harus diberi instruksi atau contoh dari Ibu saya. Satu-satunya hal yang kurang saya kuasai di awal-awal hidup si Kunyit adalah membersihkan lidah dan gusinya dengan kain kasa steril. Karena saya kurang tega memasukkan jari ke mulut Kunyit sampai dalam. Percobaan sikat lidah pertama kami kurang berhasil. Yang kedua kalinya diberi contoh oleh Ibu saya. Baru mahir melakukannya sendiri setelah 5 kali.
Kurang tega, mungkin ini kata kuncinya ya. Kunyit terlahir berukuran besar, dia terasa mantap dalam pegangan tangan saya. Saya merasa lebih percaya diri karena menganggap tubuhnya cukup kuat, tidak ringkih, sehingga bisa melakukan aneka manuver ganti baju dan popok dengan lebih "tega," lebih cepat dan efisien.
Mungkin juga karena sewaktu kecil saya suka sekali ikut mengasuh keponakan-keponakan saya yang waktu itu masih bayi. Memang sudah lama sekali, terakhir gendong keponakan mungkin tahun 1992. Mungkin ingatan akan apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengalir kembali bawah sadar setelah bertemu dengan bayi lagi. Kali ini bayi saya sendiri.
![]() |
| Chloe, 2 bulan 10 hari, si lebah madu. Baju renang ini walaupun agak rumit pemakaiannya tidak terlalu susah untuk dipasangkan dan dilepas lagi. |
![]() |
| Chloe, 5 bulan 3 hari, LaaLaa kecil. Onesie ini potongan bajunya membuat agak sulit memasangnya, terutama untuk memasang lengannya, agak PR. |
Karena Kunyit berpopok kain, sepertinya ini juga memberikan tantangan tersendiri. Popok kain modern koleksi Kunyit ada yang menggunakan velcro alias "perepet" dan ada yang pakai kancing snap alias "cetekan". Memasang yang velcro sih gampang saja, brat bret beres. Yang agak harus dipelajari adalah memasang popok yang memakai snap. Tapi sekali dua kali ganti popok snap, saya sudah lihai sekali memasangnya. Kalau ada orangtua yang bilang pasang popok kain modern model snap itu bikin berkeringat, saya akan memahaminya. Tapi... kalau yang dibicarakan adalah popok sekali pakai... entahlah. Terdengarnya agak bodoh.
Perkara ganti popok yang membuat berkeringat, karena susah... masalah terbesar sebetulnya ketika pup. Pup bayi di bawah 6 bulan yang masih hanya mengkonsumsi susu saja, biasanya ya njebrot. Kalau ganti popok saat bayi tidur sih nggak masalah. Wong si bayi masih semaput ini. Tinggal angkat pantatnya dengan cara menarik kedua pergelangan kakinya ke atas, lap bersih pakai kapas basah/lap basah, mungkin pasang salep anti ruam sedikit terlebih dulu atau langsung pasang popok baru. Agak PR kalau bayinya melek, dan dia tendang-tendang ke sana kemari. Sering lah saya harus berhadapan dengan jebrotan pup yang nempel ke mana-mana karena kaki si Kunyit kena pup di popok yang belum sempat diamankan.
Manuver angkat pantat dengan menarik pergelangan kaki ini justru sebetulnya mudah sekali kalau bayinya kecil dan berukuran normal. Jadi, ibu-bapak yang mengeluh keringetan waktu ganti popok, padahal anaknya pas lahir berukuran 3kg, harusnya mencoba mengganti popok si Kunyit. Kunyit lahirnya 4, 15kg. Tiap bulan bertambah 1 kg beratnya. Silakan bersimulasi ganti popok bayi dengan berat sedemikian. Ditambah dengan gerakan aktif kaki tendang ke sana kemari. Memang tidak gampang, pemirsa. Jurus ganti popoknya harus cepat dan mantap.
Satu lagi yang sepertinya agak sering terdengar dari para ibu-ibu, ke mana-mana harus bawa baju ganti juga karena kena pipis/muntahan bayinya. Karena popok kain modern si Kunyit cukup canggih, sejauh ini saya maupun Kelinci Besar belum pernah harus ganti baju karena kena pipis Kunyit (pasti ceritanya akan agak berbeda pada masa latihan pipis di wc yes, tapi itu masih nanti-nanti kayaknya). Kalau muntah... well...
Kunyit sebetulnya cukup jarang muntah susu kalau dia disendawakan dengan baik dan benar. Kalaupun dia muntah susu, itu sudah kodrati sebagai bayi. Iya, baju kami pernah kena muntah susu dia, tapi frekuensinya cukup jarang. Karena apa?
![]() |
| Chloe, 4 bulan 1 minggu, pergi ke Solo bersama mbok emban berkain garis-garis. |
Kain garis-garis yang tidak modis itu sebetulnya dikenal sebagai alas ompol bayi. Saya membelinya dulu juga untuk tugas itu. Pangkatnya lalu berubah sedikit, untuk sementara--keadaan darurat lebih tepatnya--ketika saya kehabisan insert popok kain. Si kain garis-garis sempat menjadi insert darurat karena saya punya setumpuk dan mereka mudah dibersihkan serta lumayan cepat kering.
Setelah persediaan insert popok kain modern si Kunyit mencukupi, si kain garis-garis mengalami peningkatan kasta, menjadi lap iler dan gumoh. Dalam kondisi darurat tertentu ia menjadi lapisan penahan bocoran LDR agar baju dan kasur tidak basah terkena susu, terutama di malam hari. Saya sering terlihat di tempat umum dengan sampiran kain garis-garis ini di pundak. Sangat tidak fashionable memang, tapi saya jadinya tidak perlu ganti baju ketika Kunyit gumoh di pundak saya.
Begitulah. No sweat, dong ah. Apalagi kalau punya suster atau baby sitter, wah, itu lebih no sweat lagih :) Tiap hari tinggal main saja, tidak perlu merasa capek ganti baju dan popok bayi.
Wednesday, February 22, 2012 | Labels: Bahasa Indonesia, Emak | 0 Comments
Happy New Year 2012
To recap, family happened to me last year. It dominated the events of 2011 and plans for any long term or immediate future.
New friends.
An office job and then no office job.
I still try to live with no regrets, so here goes...
2012
Let's go!
Sunday, January 01, 2012 | Labels: Emak, English | 0 Comments
Anak Kaleng
Dulu, paska melahirkan saya, Yang Mulia Ratu Alam Semesta Ibunda saya ternyata gagal menyusui. Setelah 7 hari produksi ASInya berhenti sehingga saya pun diberi susu formula. Adik saya juga mengalami hal yang serupa, tapi dia kurang beruntung dibanding saya karena dia cuma dapat 4 hari saja.
Dulu ada becandaan kalau minumnya susu ibu ya berarti anaknya ibu, kalau minum susu sapi berarti jadi anak sapi. Susu yang saya minum adalah susu kalengan, jadi, saya anak kaleng dong?
Karena saya adalah anak yang dibesarkan dengan botol susu, konsep menyusui menjadi sesuatu yang cukup samar bentuknya di kepala saya. Saya tahu bayi yang baru lahir itu minum susu sering sekali. Saya tahu pada tahapan usia tertentu bayi akan mulai diperkenalkan pada makanan selain susu, seperti bubur. Saya tahu produk-produk susu formula dan makanan bayi di supermarket. Tapi saya tidak tahu apa-apa soal menyusui. Yaiyalahya. Wong belum pernah netekin sama sekali.
Lalu Kunyit pun terjadilah. Saya memutuskan ASI karena alasan ekonomis. Sambil harap cemas sebab khawatir kegagalan menyusui yang terjadi pada ibu saya itu karena faktor genetika. Saya membaca segala macam literatur tentang tips dan trik meningkatkan produksi ASI, aneka macam persoalan yang meliputi pabrik ASI dan cara mengatasinya, dan soal perlekatan yang baik.
![]() |
| Mulutnya harus terbuka selebar mungkin sebelum menempel di dada. Latihan agar koreografi awal perlekatannya bisa kompak dan bagus itu susah, pemirsa |
Di sekeliling saya jarang ibu menyusui. Yang setelah saya pikir-pikir ya... agak aneh juga gak sih?. Yang sering saya lihat adalah bayi minum susu dari botol. Di tempat umum, di mana saja. Botol. Bayi. Botol. Dot. Empeng. Saya tidak tahu apa itu "perlekatan yang baik". Katanya perlekatan yang baik menghindarkan lecet pada pabrik susu. Semua literatur yang pro ASI menyatakan bahwa menyusui itu seharusnya tidak sakit tidak lecet, asalkan perlekatannya baik. Ya sudah saya percaya saja. Untung di internet banyak ibu-ibu yang cukup rela membiarkan gambar pabriknya diunggah untuk memberi contoh perlekatan yang baik versus perlekatan yang salah.
Kemudian lahirlah Kunyit. Saya gagal melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini karena kurang ngotot pada tenaga kesehatan yang membantu saya melahirkan. Ketika pertama kali Kunyit sampai di gendongan saya, saya udah semangat dong mau mencoba menyusui... eh... anaknya teler. Gak bisa melek. Ternyata karena dia sudah keburu diberi sebotol susu formula ketika saya masih tepar dijahit-jahit. Alasannya karena si Kunyit sudah keburu teriak-teriak marah sebab lapar. Bagaimana ya, buah tak jatuh jauh dari pohonnya... *ehem*.
Tapi jangan kuatir pemirsa, 8 jam kemudian saya pun duduk di kursi ruang menyusui yang kurang nyaman selama enam jam, belajar menyusu bersama Kunyit. Lepas. Nempel. Lepas. Nempel. Pindah dari kiri ke kanan ke kiri lagi. Saya sampai memotret si Kunyit dan pabrik ASI untuk meyakinkan diri bahwa posisi si Kunyit pada pabrik itu sudah mirip dengan gambar-gambar perlekatan yang baik di internet.
![]() |
| Dari empat posisi ini kami cuma bisa dua. |
Tiga hari pertama setelah melahirkan yang keluar dari pabrik ASI saya cuma kolostrum, dan dalam jumlah normal: sedikit. Sementara menurut para suster ruang bayi, Kunyit sudah mampu menghabiskan susu formula 60ml sekali minum. Ini adalah banyak, pemirsa. Biasanya bayi baru lahir itu kalau diberi susu formula takarannya 30ml sekali minum. Karena tidak diijinkan membawa dia ke kamar rawat tempat saya menginap, saya ngotot minta mereka memanggil saya ke ruang bayi tiap kali Kunyit nangis karena lapar. Tentu saja Kunyit menangis laparnya sekejap setelah saya tinggal balik ke kamar, soalnya dari pabrik ASI mungkin dia cuma dapat 5ml, sementara kalau dari botol bisa 60ml. Jadi, selama di Rumah Sakit kalau malam si Kunyit minum formula. Enampuluh mililiter pula.
Ibu-ibu hardcore ASI eksklusif bisa ribut kalau baca ini. Bayi kena sufor itu kayak bid'ah gitu deh. Saya juga menyesalkan perihal sufor itu, tapi karena sudah terjadi, yasudahlahya. Saat itu saya tidak mau stress berkelahi dengan pihak rumah sakit supaya Kunyit bisa tidur di pelukan saya di kamar rawat. Konsekuensinya adalah mondar-mandir dari kamar rawat ke ruang bayi dan duduk lama di kursi lipat kurang enak yang tersedia di sana dengan Kunyit. Saya biarkan Kunyit dijejali sufor kalau malam. Saya cuma bertekad, sepulang dari RS ya ASI saja tanpa sufor. Karena sufor mahal untuk jangka panjang. *tetep* *konsisten*
Yang Mulia Ratu Alam Semesta Ibu saya semangat betul menanggapi rencana ASI saya. Mungkin karena ketidakberhasilannya dulu itu. Begitu Kunyit lahir saya harus minum sinom dua liter tiap hari. Sinom itu minuman tradisional yang dibuat dari daun pohon asam yang masih muda (nom), direbus dengan kunyit (yang tanaman, bukan yang bayi), dan diberi gula jawa.
Selain dicekoki sinom, selama di bawah naungan rumah beliau saya juga wajib minum hampir satu liter air rebusan kacang hijau setiap harinya. Totalnya hampir tiga liter dua jenis minuman itu. Saya juga harus ngemil kacang tanah yang disangrai, makan kaplet daun katuk dan kukusan pepaya muda yang masih hijau tambah ikan laut. Ini pun masih ditambah pil Moloko dari dokter kandungan, yang konon mampu merangsang keluarnya ASI.
Upaya berganda ini menuai hasil dengan gemilang. Lima hari setelah melahirkan produksi pabrik saya mulai mengejar kebutuhan si konsumen tunggal. Dia tidak lagi harus menempel dua jam lamanya tiap kali merasa lapar. Usia seminggu, Kunyit cuma butuh 20 menit sekali menyusu untuk merasa kenyang. Sekali peras satu pabrik, saya bisa mengisi botol sampai 30ml padahal 3 hari sebelumnya cuma dapat 10ml. Kesuksesan ini tentu saja membuat Ibu saya girang. Jadi, resep sukses itu pun diteruskan sampai saya harus kembali ke Jogja sebulan kemudian :)
Adalah wajib memberi bayi ASI saja sampai 6 bulan. Sebaiknya anak terus mendapatkan ASI hingga usia satu tahun. Bagus kalau pemberian ASI diteruskan sampai usia 2 tahun. Ada teman yang baru berhenti menyusu pada ibunya di usia 4 tahun, yang membuatnya ditertawakan hingga kini (termasuk oleh saya bwahahaha). Saya sendiri akan menyusui Kunyit sampai dia berhenti dengan sendirinya. Kalau ternyata nanti dia baru mau berhenti di usia empat tahun, mungkin itu karma saya menertawakan Blanyuk. Bwahahahaha.
Friday, December 16, 2011 | Labels: Bahasa Indonesia, Emak | 2 Comments
Ibu Internet
Era baru, era teknologi. Era baru, era keibuan. hahaha. Fokus pemikiran dan pergaulan sehari-hari sudah tidak bisa lagi dipisahkan dari bayi, bayi dan bayi. Jadi tadi sore, sambil masak, saya memutuskan untuk membuat label baru di blog ini. Label emak. Ini postingan pertama label emak.
![]() |
| Kunyit *gasp* I am your mother *gasp* (sambil pakai ember hitam di kepala) |
Internet banyak membantu saya sebagai emak anyaran. Segera sesudah the electrifying moment of truth, saya langsung mencari informasi mengenai perkembangan janin. Kemudian saya mencari informasi tentang proses kehamilan, proses melahirkan dan proses menyusui.
Ketika hamil 4 bulan saya pernah, kalau ditotal mungkin seminggu lamanya, mencari dan melihat video-video melahirkan di youtube, terutama melahirkan normal. Man, those videos are powerful stuffs! Saya pernah sampai menitikkan air mata setelah nonton sebuah video proses melahirkan yang berdurasi 18 menit. Ikut lega, ceritanya.
Tapi waktu Chloe lahir tidak ada foto atau video yang merekam proses kelahirannya. Padahal cukup dramatis, menurut saya. Ada teriak-teriaknya, darah-darahnya, romantisnya juga ada. Saya nggak nangis. Kayaknya si manyun agak berkaca-kaca, tapi waktu itu saya hampir semaput dan dia pakai kacamata, agak kurang jelas gitu.
Selain video proses melahirkan saya juga mengunduh banyak sekali video yoga hamil. Saya nggak ikut senam hamil, makanya nggak tahu kenapa kalau mengejan itu nggak boleh merem dan bahwa saat mengejan terakhir itu badan harus dilipat dengan cara memegangi lutut sambil ngangkang (susah yes, dengan perut segede bak cuci yang lagi kaku tegang). Saya cuma melakukan yoga hamil setiap hari. Memang sih kadang saya bolos yoga sehari dua hari, tapi saya lebih rajin melakukan yoga dibandingkan jalan kaki. Saya latihan nafas setiap hari (juga belajar dari internet), minimal 2 kali sehari, sejak kehamilan 4 bulan. Sepertinya hal-hal ini yang membuat Chloe mbrojolnya cepat. Ya, selain dari efek induksi Oksitosin sih... *syalala*
![]() |
| Yak ibu-ibu, kalau sudah kontraksi ambil pose lilin! (foto minjem dari sini) |
Dari awal saya sudah bertekad ingin ASI ekslusif saja untuk Chloe. Saya tidak pakai banyak pertimbangan. Alasannya hanya karena saya mau hemat. Harga susu mahal. Sebagai pekerja lepas dan pekerja bantingan, saya tidak yakin bisa memberi asupan susu formula yang terbaik untuk Chloe. ASI kan jauh lebih ekonomis pun praktis. Tinggal buka kutang, bisa langsung dikonsumsi.
Baru belakangan, setelah saya membaca ini itu dan mengikuti akun media sosial Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, saya jadi tahu kalau tidak ada susu formula semahal apa pun yang bisa menyamai kemujaraban ASI. Setelah membaca setumpuk info tentang mukjizat ASI tekad saya tidak berubah, saya bertekad menyusui karena lebih murah. *hakdes*
Informasi menyusui juga lebih banyak saya dapatkan dari internet ketimbang dari Yang Mulia Ratu Alam Semesta Ibu saya. Ibu saya gagal menyusui kedua anaknya. Saya berhasil dapat 7 hari, adik saya kurang beruntung cuma dapat 4 hari. Hal ini tidak lantas membuatnya menjadi ibu yang tidak baik atau tidak sukses sih. Hanya saja saya jadi kurang bisa bertanya ini itu mengenai menyusui pada beliau.
Oke, info soal melahirkan sudah. Info soal senam hamil sudah. Info soal menyusui sudah. Saya pun berbelanja lewat internet. Belanja popok untuk Chloe. Popok kain modern. Kenapa disebut modern, karena dia dijahit menyerupai bentuk popok sekali pakai. Dan bahan yang digunakan membuat popok tersebut bisa menampung hajat kecil dan besar si bayi sampai durasi 3-4 jam, tanpa bocor keluar dari popok. Canggih banget, pemirsa!
![]() |
| Setumpuk cloth diaper siap tempur |
Internet memberikan saya hiburan dan informasi (akibat nggak punya tv), jadi saya bisa tetap mengikuti perkembangan dunia di luar dunia ASI, popok dan bayi. Saya juga bisa tetap berhubungan dengan teman-teman dan keluarga. Ah, internet. Indomi telor kornet. Apalah saya tanpa dirimu dalam satu dekade terakhir ini?
![]() |
| Chloe, meet internet. Internet, meet Chloe. #kemudianbengong |
Wednesday, December 14, 2011 | Labels: Bahasa Indonesia, Emak | 4 Comments
Akseptor KB = Dewasa. Konon.
Sekitar dua pekan setelah saya melahirkan, Ratu Alam Semesta Ibu saya berkata sebaiknya saya membuat janji ketemu dengan dokter kandungan untuk memasang IUD. "Harus segera dipasang. Jangan sampai nanti kesundul, kasian si Kunyit," begitu kata Ibu saya.
![]() |
| Sundulan yang cantik... dan... GOOOOLLL! |
Kesundul adalah istilah di kalangan terbatas, yaitu ketika si anak belum genap setahun, tapi ibunya sudah hamil lagi. Itu terjadi pada beberapa orang yang ibu saya kenal, dan yang saya tahu pasti terjadi pada sepupu saya. Anak pertamanya baru berusia 5 bulan dan istrinya sudah hamil lagi 3 bulan. Gas pol jek!
Percakapan mengenai seks dan kontrasepsi selalu berjalan agak janggal dan jengah di antara kami, ibu dan anak, walaupun konsep KB dan kontrasepsi bukan hal yang asing bagi saya. Sebagai tenaga medis profesional, Ibu saya adalah bagian dari pelaksana kampanye KB pemerintah RI di era 1980-an. Saya yang masih TK pernah ikut beliau keliling dalam program PUSLING (Puskesmas Keliling) dalam hal kampanye KB. Sesungguhnya sejak kecil saya tahu apa itu kondom, pil kb, kb suntik, kb susuk. Kalau ada geek KB, sayalah orangnya.
Nah, jadi ya pemirsa sekalian, yang namanya perempuan menyusui itu jadwal menstruasinya terceraiberai. Ok, terceraiberai adalah bukan istilah yang tepat. Tapi intinya, selama menyusui eksklusif, terutama sampai dengan usia bayinya 6 bulan, sebetulnya ini adalah bentuk kontrasepsi yang cukup efektif. Konon persentase efektifitasnya 98% gitu. Hampir sama seperti kalau minum pil KB. Tapi sebaiknya jangan main-main dengan prokreasi, jadi kalau nggak pingin kesundul ya sebaiknya pasang alat KB.
IUD adalah Intrauterine Device, kalau bahasa lokal sih Spiral KB lah ya. Jadi dia dipasang di dalam rahim, menutupi saluran telur, supaya kalau ada pasukan sperma, mereka nggak ketemu dan jadi. Jadi apa? Jadi bayiiii :D
![]() |
| seriously mean looking devices, eh? |
"Tapi ini belum selesai nifasnya."
"Dulu aku pasangnya juga belum selesai [nifas]. Daripada nanti belum kepasang sudah kemasukan burung!"
Oh yes, we were totally having a very very adult conversation (bersemu pink dari ujung jempol kaki ke ujung rambut kepala). Sementara itu si kelinci kecil lagi mabok di pangkuan saya, kekenyangan susu.
Ketika akhirnya ke dokter kandungan untuk kontrol dan sekalian buat janji pasang IUD, ternyata beliau akan pergi liburan dan baru buka praktek dua pekan setelah tanggal jadwal saya dan Kunyit pulang ke Jogja. Batal deh pasang IUD di Surabaya.
Sepekan lalu akhirnya saya ke dokter kandungan saya di Jogja. Hal pertama yang ditanyakan pak Dokter selepas bertukar apa kabar, baik, bagaimana anaknya adalah: "Kok kamu ke sini? Hamil lagi?" Dalam hati saya salto dua kali ke belakang langsung split.
Saya utarakan niat saya untuk pasang IUD. Dokter bertanya apakah sudah menstruasi. Saya bilang belum. Ya karena memang belum. Dokter bertanya apakah sudah menyusui. Ya pak dok, eksklusif. Dokter bertanya apakah sudah berhubungan. Saya bilang sudah. Begitulah. Lalu tampang pak dokter nampak keruh. Lalu saya pun dalam hati kembali salto dua kali ke belakang tapi kali ini langsung nabrak tembok.
Pak dokter meresepkan obat hormon, dalam 10 hari kalau saya tidak menstruasi diminta kembali, kalau menstruasi diminta kembali pada hari ketiga mens-nya untuk dipasang IUD.
Okay.
"Jangan berhubungan dulu ya mbak," begitu pak dokter berpesan. Baiklah pak dok. Hey manyun! you, me, END!
Ternyata empat hari kemudian saya jadi menstruasi. Yang kemudian tadi malam itu saya dan manyun dan kunyit pun pergi ke praktekan dokter, untuk dokter memasang IUD pada saya (keram gak enak gitu ya bok prosesnya, ih). "Minggu depan kembali ke sini untuk kontrol ya mbak. Kontrolnya nanti seminggu, sebulan, 3 bulan, lalu setiap 6 bulan. Sampai minggu depan jangan berhubungan dulu," begitu pesan pak dokter sambil mencuci tangan. Baiklah manyun! Kita main mahyong aja ya!
![]() |
| Ya, pak dokter juga boleh ikutan main lah nanti gantian. |
Sepulang dari praktekan dokter, kami merayakan terpasangnya si IUD dengan makan enak untuk mengobati perasaan galau akibat perut yang jadi kram. Selain karena laper dari siang belum makan :D
Lalu... lalu saya merasa... dewasa. Yeah. Perasaan apeu itu. Soalnya kan saya sebetulnya sudah manula.
Wednesday, November 02, 2011 | Labels: Bahasa Indonesia | 0 Comments



.jpg)










