About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

Kerubim

1 comment

Sebetulnya saya pingin nulis ini dari beberapa pekan yang lalu. Ada sesuatu yang mengganjal yang membuat saya tidak kunjung menuliskannya. Ganjalan untuk menuliskannya juga besar. Jadilah saya merasa terganjal kiri dan kanan.

Entah kenapa di saat tempat kerja saya mau tutup operasional, malah banyak staff dan istri staff yang hamil atau melahirkan. Jaraknya pun berdekatan. .Jumlah perempuan hamil di tempat kerja saya ketahuan ketika suatu hari kantor saya mengadakan pelatihan bela diri khusus staff perempuan. Tae Kwon Do dasar. Sekretaris bos mengirimkan e-mail dan staff perempuan diminta mengisi daftar keikutsertaan. Saat itu kandungan saya masih 24 minggu. Belum terlalu terlihat seperti hamil, lebih seperti kekenyangan saja. Saya tulis saja di daftar itu kalau saya tidak ikut pelatihan bela diri. Selain latihan tangkis dan sedikit pukulan, saya yakin pelatih yang disewa akan mengajarkan juga cara untuk jatuh atau menjatuhkan. Daripada ambil resiko, lebih baik tidak ikut saja.

Pada hari H pelatihan, sekretaris bos mengirimkan pesan via surat elektronik; Saat jeda makan siang akan ada satu mobil berangkat dari kantor ke tempat pelatihan, ikut saja, makan siang bersama. Berhubung saya murahan dan mudah lapar, ya saya ikut saja. Nah, saat itulah terlihat siapa saja staff yang sedang berbadan dua. Ada 4 orang. Saya salah satunya.

Ternyata ada satu staff yang usia kandungannya cuma beda 2 minggu dengan saya. Lebih dulu dia. Anak lapangan yang jauh lebih tomboy penampakannya. Sama kayak saya, dia juga belum keliatan hamil, cuma keliatan kekenyangan aja.

Sekitar dua pekan sesudah itu, asisten sekretaris bos yang hamilnya paling gede ambil cuti. Dua hari kemudian, pagi-pagi ketika saya sedang ambil air minum di dekat meja sekretaris dan asisten, terdengar sedikit kasak-kusuk. Sekilas saya tangkap beritanya tentang salah satu staff sudah melahirkan, anaknya laki-laki. Saya kembali duduk ke meja sambil takjub. Cepet juga ya si asisten borojolnya. Tapi kok anaknya cowok ya. Perasaan terakhir ngobrol, dia cerita kalau dari hasil USG ternyata oroknya cewek.

Besoknya barulah kasak-kusuk itu menjadi jelas. Yang melahirkan adalah si staff lapangan itu. Saya bengong. Berarti usia kehamilannya baru 28 minggu waktu itu. Ceritanya, dia sempat tidak masuk dua hari, diperintahkan dokter untuk istirahat total. Katanya karena kecapean. Ya kalau tiap hari ke lapangan, siapa pun juga capek. Apalagi sedang hamil. Hari ketiga ia masuk kantor. Saya ingat saya sempat melihatnya hari ketiga itu. Malamnya ada flek, katanya. Dibawa ke rumah sakit dan si jabang bayi pun keluarlah. Masih hidup. Beratnya hanya 1250 gram katanya. Masuk inkubator.

Dari yang pernah saya baca, kemungkinan bertahan hidup bayi yang lahir prematur akan semakin besar setelah memasuki trimester terakhir. Tapi 28 minggu itu terlalu muda. Dan meskipun berat badannya sesuai dengan usia kehamilan, tetap saja terlalu kecil. Saya tidak berani membayangkan macam-macam. Tadinya pekan itu saya mau ikut pergi kemping ke Dieng. Naik bis dari Yogya sekitar 4 jam. Saya membatalkannya karena mendadak tidak yakin dengan ketahanan tubuh saya sendiri dan si kelinci kecil.

Dua hari kemudian salah seorang staff lapangan lain yang hendak mengunjungi rumah sakit sempat mengedarkan amplop saweran untuk memberikan kado perlengkapan bayi. Sepertinya si kecil berjuang untuk bertahap hidup. Sip.

Akan tetapi, sekitar empat-lima hari kemudian, pagi-pagi di kotak surat elektronik saya masuklah pemberitahuan duka. Ternyata si kecil tidak bertahan. Kemudian saya mendengar juga cerita bahwa bobotnya yang mungil itu berkurang hingga kurang dari satu kilogram sebelum akhirnya ia menyerah kalah dan berpulang. Saya tidak tahu harus merasakan apa. Iba. Lega. Sedih. Kasihan. Semuanya mengantri dalam benak. Tidak ada yang saya biarkan masuk ke dalam. Diam-diam saya membayangkan seandainya kelinci kecil diambil lebih awal, apa yang akan saya lakukan. Sedih pasti, tapi saya akan melanjutkan hidup. Kalau sudah kun fayakun memangnya saya bisa apa.

Sekitar dua atau tiga minggu kemudian staff lapangan itu kembali bekerja. Saya masih hamil dan dia sudah tidak.

Entah kenapa saya merasa bersalah.

1 comment :

Sundea said...

Gue sedih banget baca posting ini, Mir. Bulan lalu ponakan gua juga lahirnya kekecilan, cuma 1,6 kg. Gue inget keluarga gue cemas dan tegang banget pas itu.

Ternyata udah sekitar sebulan dia survive dan baik2 aja. Kita semua bersyukur.

Tulisan lo ini nyentuh banget. Gue bisa ngebayangin gimana kalian sesama ibu hamil saling solider. Gimana lo nutup ceritanya juga gong banget.

I really love this post dan pilihan judulnya ...

Salam buat Bayi Kelinci, semoga dia sehat2 aja. Moga2 someday Tante Dea bisa nengokin =)