About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

Turis Malas

1 comment
Jaman dulu, kalau dibilang liburan maka yang kepikir di kepala adalah hotel yang adem dan ada kolam renangnya. Pergi ke Jakarta, Malang, Tretes, Bali, dll, agendanya adalah menikmati kamar hotel yang adem dan berTV kabel, bath tub (yay), dan kolam renang. Selain dari menikmati fasilitas kamar hotel itu, agenda lain tentunya adalah jalan-jalan belanja mencari oleh-oleh.



Ini dulu.

Lama-lama rasanya malah aneh, pergi jauh dari rumah untuk melakukan hal-hal yang bisa dilakukan di rumah (atau minimal tanpa harus pergi ke luar kota). Mulailah pergi keluar dari hotel, melihat atraksi ini itu, jalan-jalan seharian.

Setelah terjadi perubahan kegiatan, rasanya jadi boros bayar hotel segitu mahal untuk dapet fasilitas AC, TV Kabel, dan Kulem Renang yang kemudian gak terpake. Mulailah memilih hotel yang murah, masih nyaman tapi AC adalah Angin Cendela, TV gak harus kabel, kolam gak harus renang. Apalagi kalau saya pergi sendirian dan tidak bersama ibunda sang Mulia Ratu Alam Semesta selaku penyandang dana.

Tinggal berjauhan dengan ibu membuat gaya bepergian saya jadi semakin berbeda dengan beliau, dan juga dengan adik saya yang selalu tinggal bersama orangtua. Saya ke mana-mana bawa ransel karena lebih mudah dibawa dibandingkan menggotong duffel bag atau koper pakaian. Moda transportasi juga asalkan masih bisa mengakses kamar mandi untuk perjalanan jarak jauh, sepertinya masih akan dihadapi. Agenda selama bepergian juga cenderung menjauhi tempat belanja karena: 1. bokek dan 2. bawa oleh-oleh segambreng buat saya merepotkan.

Perihal oleh-oleh, ibu saya sudah menguasai seni belanja oleh-oleh dengan memborong ina-inu ini-itu lalu menaruhnya di satu kotak kardus dan mengirimnya pulang ke rumah. Tapi beliau hanya melakukan ini untuk perjalanan dalam negeri. :D

Gaya turis dengan memakai ransel pertama saya lakukan tahun 2001. Diam-diam saya pergi ke Bali waktu itu. Sendirian dari Bandung tanpa memberitahu ibu saya, karena pasti tidak diberi ijin. Ranselnya adalah keril Eiger warna coklat lungsuran om saya yang bungsu. Saya lupa berapa besar benda itu, sepertinya 50 liter. Saya mengisinya penuh dengan baju dan tak lupa membawa dua pasang alas kaki cantik dan gaya, padahal saya cuma pergi 10 hari.

Kerilnya cukup nyaman tapi berat adalah berat. Ternyata cuma 1/2 isi keril itu yang saya pakai. Sendal dan sepatu cantik yang saya bawa bahkan tidak terpakai sama sekali. Saya tidak ingat perjalanan berikutnya ke mana dan kapan, tapi saya ingat waktu itu saya berpikir, sebaiknya membawa barang yang lebih sedikit saja lain kali.

Pengalaman berpindah tempat tinggal antar provinsi sebanyak lima kali dalam jangka waktu 3 tahun 2006-2009 kemarin membuat saya semakin berpengalaman memperkirakan apa yang harus saya bawa, apa yang harus saya titipkan, dan mana yang akan saya tinggal dan buang.

Tahun lalu, hampir sembilan tahun semenjak percobaan turis ransel saya ke Bali via jalan darat, saya kembali menelusuri rute yang hampir sama dengan moda transportasi yang sama. Dari Yogyakarta, mampir Surabaya, sampai Banyuwangi naik kereta. Kemudian dari Banyuwangi naik bis menyeberang selat dengan ferry, sampai ke Denpasar. Kali ini bawaan saya mungkin hanya 1/3 bawaan saya di tahun 2001.


Semua ini muat dalam ransel 30 liter yang biasa saya pakai sehari-hari. Selain dari ransel itu saya juga membawa satu tas merah yang isinya bantal, termos air panas 1 liter, dan aneka macam makanan serta minuman seduh :D

Walaupun tahun kemarin rencananya saya di Bali dua pekan, tapi kenyataannya saya cuma ada di sana selama 10 hari.

Nah, sebentar lagi saya akan berangkat menjadi turis, kali ini di negeri orang. Kalau rencana terwujudkan, saya akan pergi selama 16 hari. Dalam euforia perjalanan, saya dibelikan si manyun ransel cantik. Sebetulnya saya sendiri yang pilih. Memilih berdasarkan warna... *ehem*

Si manyun sudah wanti-wanti, apakah tidak sebaiknya yang 32 ltr saja. Tapi karena untuk ukuran itu warnanya biru nggak seru, saya ngotot pilih yang merah. Ketika ranselnya betulan datang, merah, pilihan saya 30l, ternyata memang benar kecil. *yaeyyalah*


Si manyun sudah berangkat duluan tanggal 2 kemarin, dengan ransel barunya yang 50 liter. Dia membawa banyak sekali barang, termasuk laptopnya dan berbagai oleh-oleh. Karena untuk perjalanan ini kami mendapat tiket budget airlines, dan karena untuk menyusul si manyun saya harus transit segala, berarti akan lebih efisien jika bawaan saya semuanya masuk kabin dan tidak dibagasikan. Dengan kapasitas ransel hanya 30 liter, saya jadi harus memaksimalkan barang bawaan.

Saya berangkat tanggal 14, enam hari lagi dari sekarang. Sebaiknya saya segera gladi bersih mengemas barang malam ini.

1 comment :

Anonymous said...

hmm kalau anda menyesal membeli tas deuter itu, saya beli deh IDR 100.000. saya rela kok.....salam kenal!! saya calon serundeng :D