About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

Reuni Pintong Sana-Sini

3 comments
Saya tidak merasa seperti pulang, begitulah yang saya tulis di notes yang saya bawa. Sore itu saya berada di ruangan atas Reading Lights, sebuah toko buku bekas di Jalan Siliwangi, Bandung. Saya dulu pernah bekerja di sana dan menghabiskan banyak waktu di ruang atas itu untuk merawat dagangan.

Saya tinggal di Bandung 10 tahun. Ini sama lamanya dengan total waktu saya tinggal di Surabaya. Sebagian tumbuh kembang saya terjadi di Bandung; misalnya pergantian dari usia belasan ke duapuluhan, jatuh cinta, patah hati, jatuh lagi, bangun lagi, mulai dari mahasiswa baru sampai jadi wiraswasta saking tuanya tapi gak lulus-lulus juga. Saya menemukan banyak teman di Bandung yang sekarang sudah bisa saya sebut teman lama, karena hey, memang sudah lama saya berteman dengan mereka.


Saya datang ke Bandung setelah 6 bulan berlalu dari kunjungan terakhir. Kunjungan kali ini sengaja saya jadwalkan santai. Saya sampai sengaja ambil cuti satu setengah hari agar tidak harus merasa terburu-buru dan kemudian merasa ada yang tertinggal atau terlupa. Berangkat Jumat dini hari dari Jogja bersama-sama Blanyuk yang baru menghabiskan sisa gaji terakhirnya, kami sampai Bandung terlambat sejam dari jadwal jam 7 pagi yang tertera di tiket. Aura nostalgia sempat merundung ketika terjaga, melihat ke luar jendela kereta hari sudah terang, dan pemandangan tatar Sunda yang dikelilingi pegunungan terlihat jelas.


Baru kali itu saya ketiduran sampai tidak sadar kereta sudah sampai di Stasiun Hall Bandung. Blanyuk juga ketiduran. Untunglah St.Hall adalah perhentian terakhir kereta Malabar. Kalau kemudian kereta terus jalan sampai Cimahi mungkin kami akan tertawa pahit dan kecut. Selain itu, Dita sudah menunggu di stasiun Hall :)


Diantar Pak Uas, kami ke rumah Dita nun jauh di Margahayu, mandi menghabiskan air panasnya, memakan habis masakan Iyah, dan tidur mendengkur sampai hampir sore. Setelah bangun, kami naik angkot dari Margahayu nan jauh ke pusat keramaian jalan Riau. Inilah salah satu tujuan utama saya: belanja di Factory Outlet.

Tapi dewa belanja tidak menyertai saya. Tidak satupun baju-baju sisa ekspor itu masuk ke dalam tas saya. Sampai dengan saya pulang, saya tidak beli apa-apa yang bukan makanan di Bandung.

Selepas Factory Outlet, kami berjalan kaki ke jalan Merdeka, ada janji jumpa bersepuluh ples ples di BIP. Saat itulah saya semakin merasa, oh kota ini menyebalkan. Tadinya saya pikir saya merasa melankolia karena nostalgia dan sentimen. Ternyata itu hanyalah rasa kesal karena saya tak kunjung merasakan melankolia nostalgia tersebut. Yang ada hanyalah... oh kota ini menyebalkan.


Hari itu berakhir dengan cukup menyenangkan, meskipun nomer 4 tidak datang karena Aunt Irma is visiting. Kami berkumpul lalu berkaraoke dua jam. Lumayan. Sesudahnya kami pintong ke Kopi Progo di jalan Progo. Makan, minum, tertawa-tawa lemas karena sudah capai. Nomer 2 juga akan menginap di Margahayu nan Raya dan Jauh. Bukannya memesan taksi, kami malah naik motornya berenam. SUNGGUH GILA! Sepanjang perjalanan saya tidak berhenti meracau karena cemas, ketakutan dan agak histeris. hiahahahaha

Untunglah kami sampai dengan selamat.

Sabtu dimulai dengan bermalas. Sekali lagi saya menghabiskan air panas untuk mandi, kali ini ditemani oleh nomer 2. Lalu meneruskan dengan menghabiskan masakan Iyah. Sesudahnya kami pergi keluar. Saya dan nomer 2 berboncengan menembus hujan. Tujuan kami Reading Lights karena bertemu dengan Writers Circle masuk ke dalam agenda wajib saya. Nomer 4 kembali mengkonfirmasi dia tidak bisa bergabung karena Aunt Irma is visiting.


Begitulah. Saya menulis bersama RLWC, semi kopdar dengan teman dari dunia maya,nomer 1 sibuk berorigami,  sementara itu Blanyuk ditampar-tampar si nomer 2 dengan jurus selendang rajutan benang sengketa kaplingan neraka. Jam sembilan kami pintong ke Erla's, sebuah bar kecil di daerah Dago Pojok. Minum bir dan haha hihi bagaikan orang dewasa. Malam itu ada pertandingan bola piala dunia. Saya tidak ingat negara apa lawan apa. Tapi saya ingat kami berenam dan Blanyuk ketemu kenalan lama secara tak terduga. Beliau duduk dekat kami dan sekejap ngobrol-ngobrol bagaikan reuni penuh nostalgia.

Malam itu kami pulang naik taksi walaupun nyaris jalan kaki sampai Simpang Pasar Dago. Margahayu itu jauh sekali ya.

Minggu. Pagi-pagi akhirnya nomer 4 muncul. HORE! AKHIRNYA! Lengkaplah kami bersepuluh di satu lokasi pada waktu yang bersamaan.


Sesudah menghabiskan bakso mang Jangkung, kami pergi naik angkot ke arah jalan Dago. Saya membawa serta gembolan saya karena malamnya kereta saya jam 8 berangkat ke Jogja. Siang itu hujan. Kami hujan-hujan mencari restoran yang pernah saya dan nomer 2 suka datangi. Restoran itu sudah gulung tikar! Akibatnya kami nongkrong di Movie Room, makan rujak, minum teh kopi dan jus jambu. Ketika hujan reda kami menelusuri jalan Dago, nomer 2 ingin ikut nomer 4 ke katedral, sementara saya dan nomer 1 mampir ke Factory Outlet.

Seperti yang saya bilang tadi, dewa belanja tidak menyertai saya, jadi dengan tangan kosong, saya dan nomer 1 akhirnya melipir ke Hoka-Hoka Bento. Hujan lagi. Kami menunggu nomer 2 dan 4 sambil makan. Lagi.

Ternyata nomer 2 & 4 dari katedral pintong ke Starbuck BIP. Hujan sudah reda saat itu. Kami berempat menyusul ke BIP, dan berturut-turut muncul Blanyuk, Yanti, dan Aridoki. Reuni lagi.

Jam 7 reuni tersebut pintong ke Stasiun Hall.

Lokomotif kereta dipasang ke rangkaian gerbong, saya naik, kereta berangkat.

Begitulah.



Saya senang bertemu dengan teman-teman saya, dan ya rasanya memang kurang lama waktu kebersamaan dengan mereka. Tetapi melankolia masih meliputi sampai ketika saya tiba di Jogja.

Sepertinya saya masih harus mencari tempat pulang sementara sebelum saya pulang pada Tuhan.

3 comments :

ribka said...

naek motor berenam??? ga kebayang! hehehe

M. Lim said...

penampakan fisiknya cuma bertiga, tapi ukurannya setara enam. :D

Panah Hujan, inc. said...

lol. tiga disamakan dengan enam. :))
*fuih, sepertinya jogja akan jadi tempat transisi masa belasan-puluhan saya -_-"*