About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

Harta Karun Warisan Mbahmu bagian 2

No comments
"Saya bingung sama orang lokal yang pergi ke Borobudur, mereka langsung ke atas, potret-potret, terus pulang."

Yang ngomong gini bule, memang. Tapi bukan karena semata dia bule lantas saya percaya omongannya. Pada kenyataannya saya juga begitu.

"Buat apa sih ke Borobudur? Cuma lihat batu." 

Waktu saya jelaskan ini, si bule menatap saya sambil ternganga tidak percaya. Ha Ha Ha.

Yo'i jek. Beribu-ribu anak sekolah TK, SD, SMP, SMA sepulau Jawa ini, pada suatu masa pernah menjejakkan kaki ke struktur batu yang konon termasuk dari 7 keajaiban dunia, bersanding mesra dengan Tembok Cina nun jauh di sana, dan Taman Gantung yang sudah tiada. Tapi jujur saja, kalau ditanya tentang Borobudur mereka malah akan bercerita tentang:

  1. panasnya, 
  2. bule-bule yang mereka temui dan ajak berfoto di sana, 
  3. suvenir berupa kaos/topi/miniatur Borobudur berbentuk asbak/sumpit/patung/kerajinan/dst yang dijual dan mereka beli/tidak beli beserta informasi harganya, 
  4. kecengan mereka yang menyelinap untuk merokok dan seterusnya. 

Sejarah Borobudur? Paling-paling hanya hafalan karena mungkin gurunya meminta mereka membuat laporan sebelum/sesudah kunjungan ke cagar budaya tersebut.

Kalau ada orang Indonesia yang antusias pada susunan batu dengan terobosan arsitektur yang cukup kondang pada masanya itu, maka bisa ditebak usianya sudah di atas 20. Dan itulah usia saya ketika untuk kedua kalinya saya mengunjungi Borobudur. Antusiasme saya juga tidak terlalu menggelora, tapi memang lebih besar daripada ketika saya pertama kali pergi ke sana di usia 6 tahun.

Pemirsa, bisa kita lihat ya, ini adalah contoh yang nampak terlalu antusias

Pada kunjungan kedua tersebut, saya jadi sedikit memperhatikan detil. Misalnya bahwa ukiran relief di candi itu rumit. Pada kunjungan kedua itu juga saya baru menyadari bahwa dalam kompleks yang sama ada museum yang isinya kapal kayu, yang pembuatannya diilhami salah satu relief di dinding Borobudur, dan diuji coba berlayar hingga Madagaskar (I like to move it move it, we like to... boogey!). Yang mana setelah berlayar kembali ke Indonesia, kapal itu dipreteli lalu dipasang ulang di dalam gedung museum tersebut. HA!

Perlu juga saya beritahu, pemirsa, bahwa kunjungan saya untuk kedua kalinya ke Borobudur itu, yang masuk ke dalam Cultural Heritage UNESCO itu, tidak lain dan tidak bukan karena saya harus menemani dua teman yang berasal dari POLANDIA. Kalau tidak harus menemani, mungkin level apresiasi saya kepada Borobudur tetap mandeg di jaman batu itu tadi.

Karena menemani dua bule itu, saya jadi harus ikutan Pradhaksina, tawaf mengelilingi tingkat demi tingkat bangunan batu candi yang kalau dilihat dari atas berbentuk mandala. Saya jadi merasa harus bertanggungjawab menjelaskan ini itu pada kedua teman saya itu, yang jauh-jauh datang dari POLANDIA untuk melihat BOROBUDUR yang jaraknya hanya 1.5 jam naik motor dari tempat saya tinggal di YOGYAKARTA. Malu dong kalau saya sampai tidak tahu apa-apa soal benda yang ada di "halaman belakang rumah" saya.

Dan ternyata, pemirsa! Oh betapa indahnya itu relief candinya, pemirsa! Sungguh ukiran batu yang realis, pemirsa! Kok bisa orang jaman dulu angkut-angkut batu sebesar itu, disusun berlapis tanpa pakai semen? Luar biasa pemirsa, bisa tidak roboh berabad-abad sementara tembok beton digoyang dikit langsung retak.  Ini yang membangun orang Indonesia, pemirsa. Abad 8-9 Masehi memang belum ada Indonesia sih, tapi itu yang membangun adalah nenek moyang orang Indonesia, pemirsa! Keren sekali!

Saya merasa "buset gue ke mana aja sih kok gak tau ini bagus, mana murah lagi" karena saya hanya perlu bayar 15 ribu rupiah,  gak harus bayar harga bule US$15 yang setara dengan 150 ribu rupiah kurs saat itu buat bisa masuk ke kompleks Borobudur dan melihat batu.

Demikianlah perlu saya sampaikan, bahwa janganlah Menara Eiffel di Paris nampak, tapi Candi Borobudur di Jawa Tengah tidak kelihatan.

NB: Memang panas sih, tapi bisa diatasi dengan seember sunblock, kacamata hitam, payung berdiameter 1.5m, kipas, air es sebotol, dan pergi ke sana setelah jam 2 siang.









postingan ini merupakan bagian dari 

No comments :