About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

Nama, Mantra, dan Doa

No comments


Oke, sebetulnya tidak dimulai dari mana-mana, tapi hari ini mengerucut pada apalah arti sebuah nama dan kenapa ada nama? 
Pengetahuan ini sebagian saya dapatkan pemicunya dari sebuah komik Jepang, tentang legenda yang kerap dipercaya oleh suku purba di Eropa; terkadang para peri menukar anaknya dengan anak manusia. Anak-anak peri ini memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh anak manusia, terutama kemampuan mereka untuk menguasai elemen (roh) alam. Penguasaan itu dilakukan dengan mempelajari nama. (cerita tentang anak yang ditukar ini ternyata juga ada di budaya Jawa, tapi ini nanti saja investigasinya)
Pemicu lain adalah dongeng Rumpelstiltskin, dari Eropa juga, tentang bajang yang memberi anak pada pasangan bangsawan yang sudah lama infertil dengan janji bahwa si anak ini setelah dewasa harus diberikan kembali pada si bajang. Tentu saja kemudian pasangan bangsawan ini ingkar janji ketika si bajang datang menagih. Si bajang kemudian memberi kemudahan, jika mereka bisa menebak namanya maka ia tidak akan mengambil si anak yang sudah menjelma jadi gadis cantik akil balig. Singkat kata, namanya diketahui, dan si bajang konon hancur berkeping dan tak pernah nampak kembali. Nama. 
Saya pernah menuliskan tentang kegemaran saya pada mantra. Mantra itu akan semakin mujarobat apabila bahasa yang digunakan adalah bahasa kuno. Bahasa awal manusia pada saat mereka mulai menemukan nama-nama segala macam hal yang ada di dunia. Mantra juga akan semakin mujarobat bila diucapkan berulang, dan penuh konsentrasi.  
Nia, salah seorang penulis berbakat yang berlatarbelakang pendidikan psikologi, menuliskan tentang nama di jurnalnya pekan ini. "Setelah dipikir-pikir", tulis Nia, "jangan-jangan memang benar kalau manusia hidup di dunia untuk menamakan benda-benda." Tulisan Nia ini adalah pemicu terakhir saya hari ini. 
Berdasarkan dari dongeng dan komik yang saya baca, saya lantas menanggapi pada jurnal Nia itu bahwa "dengan memberi sesuatu nama, maka sesuatu itu dikuasai."  Tapi apa sebetulnya yang menyebabkan hal ini? Kenapa nama bisa begitu punya kuasa? 
Kebetulan sekali ada mas Kris di lokasi. Beliau ini adalah salah satu dari dua orang yang pernah saya campuri obrolannya tentang bunyi, kata, dan bahasa. Dengan panduan dari beliau, dan dengan kekuatan tuhan Google dan dewa wikipedia, saya menemukan konsep yang menjelaskan kenapa nama bisa sakti mandraguna kekuatannya. 


Kenapa hayo?


Ada orang bernama Dale Spender yang pernah menyimpulkan bahwa "those who have the power to name the world are in a position to influence reality". Mempengaruhi realitas melalui nama. Dengan memberi nama, manusia melakukan klasifikasi.
Berikut kata Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang klasifikasi:
kla·si·fi·ka·si n penyusunan bersistem dl kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yg ditetapkan; 
Dengan klasifikasi, maka dilakukan penyusunan prioritas, sebuah hirarki. Dari sini saja, bisa dilihat posisi sebuah benda berdasarkan cara ia disebut melalui namanya. Karena, dalam sebuah nama (kata) ada konotasi atau nilai yang menempel padanya. Sebab itulah ada semacam perbedaan preferensi antara istilah "wanita" dan "perempuan". Ada yang bilang wanita itu merendahkan, dan perempuan itu meninggikan status dari gender yang dimaksud. 
Oh, saya lupa bilang, Dale Spender itu feminis, dan kesimpulannya tentang nama dan kuasa terhadap realitas itu memang dicantumkan dalam sebuah esai yang terangkum dalam buku berjudul "The Feminist Critique of Language: a Reader". Kesimpulan Dale Spender ini didasarkan pada teori bahasa dan simbol yang ditulis oleh seorang bapak-bapak bernama Ernst Cassirer. Ya, saya juga gak tahu dia itu siapa, dengar namanya saja baru lima belas menit yang lalu dari mas Kris nan Budiman. Itu link wikipedianya sudah saya tautkan di namanya. Klik saja. 
Cassirer merumuskan bahwa manusia menciptakan struktur realitas melalui simbol-simbol. Simbol yang dimaksud dapat diterjemahkan secara luas menjadi bahasa. Bahasa terdiri dari kata. Kata terdiri dari bunyi. Maka, dengan serangkaian bebunyian yang terstruktur, manusia bisa memetakan realitas di sekitarnya, bahkan mengubahnya sesuai dengan yang diinginkan. Bebunyian terstruktur yang saya maksud di sini ya tentu saja mantra. Mantra yang mengandung nama benda-benda di sekitar kita. Mantra mengubah realitas. Serem kan?


Bingung? 


Contoh mantra yang mengubah realitas: "Bang, es tehnya dua."
Tadinya tidak ada es teh di depan kita. tapi dengan empat kata itu, maka terhidanglah dua gelas es teh nan segar dan manis di hadapan kita, siap untuk diminum. Sesajennya adalah uang untuk imbalan si abang yang sudah mendatangkan es teh. 
Ini tentu saja contoh sederhana. Contoh yang lebih rumit mungkin kemampuan dukun setempat menguasai mahluk halus untuk bekerja sama mendatangkan harta, misalnya tuyul. Contoh lebih fantastis adalah menguasai mantra untuk mendatangkan naga. Hiahahah.
Doa adalah mantra yang tak memaksa. Tetapi mantra yang diucapkan berulang-ulang memaksa realitas di sekitarnya berubah. Kalau yang ini bisa dijelaskan secara fisika, konon. Karena bunyi memiliki getaran, gelombang. Semua benda yang ada di dunia ini memiliki gelombang tertentu, yang saling mempengaruhi. Ya, ini ada hubungannya dengan teori energi. Nah lho, tambah panjang, tambah pusing kan?


Kira-kira inilah yang ada di kepala saya malam ini.


Mungkin manusia memang ada di dunia ini untuk memberi nama benda-benda. Sebab, manusia itu punya hawa nafsu untuk menguasai sesuatu. 


Sudah ya, sudah malam. 


Akhirul kata, jangan meremehkan komik Jepang.

No comments :