About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

Bagaikan Onak dalam Daging!

2 comments

Saya kepada Bandeng, yang bahasa Inggrisnya adalah milkfish, memiliki perasaan antara benci dan tapi enak. Benci karena durinya oh banyak sekali, tetapi oh rasanya enak sekali terutama kalau baru matang masih panas, dan dimakan dengan nasi yang pulen dan sama panasnya. HO HO HO!

Bandeng adalah ikan yang cukup banyak ditemui di Surabaya, kota kelahiran saya, karena Surabaya dekat dengan Gresik dan Sidoarjo yang terkenal dengan industri perbandengannya. Tapi rata-rata bandeng dari Gresik bau tanah karena dibudidayakan di tambak, bukan di keramba lepas pantai. Ini aspek bencinya, dulu kalau Ibunda Ratu Alam Semesta saya masak bandeng, saya paling rewel. Saya endus-endus. Kalau bau tanah pasti saya buang muka (tapi tetep dimakan karena disuapin ahahah). Ternyata untuk mengatasi bau tanah, bandengnya sebelum diolah, dicuci rendam dulu sejenak dengan larutan air dengan cuka. Tapi si Emak Ratu Alam Semesta mengatasi bau tanah ini dengan memasak si bandeng bumbu bali atau disemur.


Bandeng Presto Gowrank!

Bagaikan onak dalam daging! Jangan tanya berapa kali saya harus menelannya! Waktu masih belum berpengalaman dengan itu ikan bandeng jahanam, kayaknya tiap kali pasti saya berlinang air mata karena durinya ketelen dan nyangkut di kerongkongan. Obatnya, sesuap nasi panas. HAP! Makan pun dilanjutkan kembali. Walaupun agak manyun karena ancaman onak dalam daging itu bisa terulang kembali. Rasanya nggak telaten menyusuri duri-duri ikan bandeng sambil makan. Keburu nasi dingin atau ikannya yang dingin. Paling top memang bandeng presto. Tapi bandeng presto itu jarang dijual oleh tukang sayur yang lewat depan rumah, kalaupun ada belum tentu enak, dan si Emak bosen kalau makan bandeng digoreng-goreng melulu, makanya ikan bandeng presto jarang ada di rumah kami. Lebih jarang lagi bandeng otak-otak, kalau yang ini seluruh daging ikannya dikeluarkan, dicampur dengan berbagai bumbu, lalu dimasukkan kembali ke dalam kulitnya, lalu dipanggang dengan dijepit di antara bilah bambu. Durinya jelas tidak ada sama sekali.

Di malam pergantian tahun kemarin, si Bapak bepergian ke Jakarta naik kereta ekspres malam yang berhenti di Jogja. Beliau membawa oleh-oleh dari Ratu Alam Semesta Ibunda, dan bonus dua bandeng. Satu diolah dengan panci bertekanan tinggi, satu diolah dengan diasap.



Bandeng asap, kulitnya enak banget kalau digoreng

DUA-DUANYA ENNNNAAKKK!!!

Karena ndak punya hidangan lain, maka omJ pun kebagian juga itu hidangan bandeng tiga hari berturut-turut ini. Enak, katanya. Tapi sambel kecapnya kurang pedas. Saya cuma nyengir karena pas belanja ke pasar lupa beli cabe. HAHA. Live with it!

Kemudian kemarin Nyai Tembi yang baru pulang dari kota kelahirannya di Semarang memberi oleh-oleh berupa makanan. Pepesan katanya. Oleh-olehnya baru sempet saya jemput tadi sore. Ternyata yang dipepes ... BANDENG juga! HAHAHA. Empat hari berturut makan bandeng, pasti oye!

Hmm, pingin bandeng otak-otak.

2 comments :

Sundea said...

Bandeng Lautan Api.

Panah Hujan, inc. said...

Oh my gad. Menggebu-gebu sekali promonya. Dan kayaknya enak. *jadi ngidam bandeng, hah!*