About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

No Food to Eat, Nothing to Drink (But It's Alright We Went to Menteng Anyway)

1 comment
Saya datang lumayan tepat waktu. Langit tidak cerah tapi juga tidak hujan. Ke mana sih, saya? Saya pergi ke pembukaan pameran seni rupa di Galeri Nasional Indonesia, hari Jumat tanggal 6 Februari 2009. Pameran ini adalah gong pembuka resmi Jakarta Biennale 2009.

Di halaman GNI banyak orang dan lampu-lampu digelapkan karena pas di depan gedung pamer dipasang 2 layar besar, dan ditembakkan ke sana dua rekaman tentang Jakarta dari dua masa yang berbeda. Yang sebelah kiri masa Bataviaa, yang sebelah kanan Jakarta beberapa dekade yang lalu. Musik yang mengalun menemani dua rekaman itu adalah musik orkestra bernuansa klasik yang sayang sekali saya tidak tahu siapa penggubahnya. So pasti bule, dan sudah tiada. Hihihi...

Saya datang sendirian, bengong tak ada teman. Berdiri sambil mendongak ke atas, mengagumi bulan yang berulangkali disapu awan sambil bergoyang-goyang sedikit sesuai irama musik klasik. Tak lama kemudian Tanti muncul dari salah satu sudut dan menemani saya, memperkenalkan saya pada teman baru, pengganti posisi Tanti di kantor lama.

Lalu saya bertukar sapa dengan Tanto yang karyanya juga dipamerkan di Biennale kali ini (dan hampir tidak saya kenali, lagi, seandainya saya tidak melihat video rekaman prosesnya). Lalu saya melihat Ime yang baru berulangtahun dan rupanya sedang bertugas meliput (hihihi). Lalu Iie datang. Lalu kami pun berkeliling ke dalam.

Karena saya tidak pernah menghadiri pameran JB yang lalu, saya tidak punya pembanding pasti, tapi saya suka pameran seni rupa kali ini. Karya-karya tertata rapi dan tidak berdesakan seperti di pasar pagi. Selain itu, karena pengunjung GNI tidak terlalu banyak, rasanya tidak penuh sesak, tidak diburu-buru atau terhimpit saat menikmati karya-karya tersebut. Tak kebagian makanan, dan juga minuman, tapi tidak apa-apa karena kami sempat juga kemudian ke Menteng untuk ngerumpi dan makan, lalu kembali ke GNI dan melihat sedikit pertunjukan musik LIVE DJ ini dan itu yang saya lupa siapa saja (ah, kecuali Reza "Asung" Afisina yang memainkan musik bukan 80an).

Saya suka karya Vincent Leong, seniman Malaysia, yang menutup satu dinding di GNI dengan stensil gambar hijau-merah jambu motif semi batik hibrida wayang, barong, penari bali, garuda, mega mendung, bajaj dan minuman botol. Saya mau "Tropical Paradise" ini di dinding kamar saya!

Saya suka karya Ming Wong, seniman Singapura, yang menampilkan dirinya sendiri dalam rekaman video sebagai 16 tokoh yang berbeda, berperan dalam berbagai adegan yang ditiru dari empat film Melayu yang dibintangi oleh P. Ramlee. "Four Malay Stories" membuat saya tertawa-tawa. Belakangan setelah membaca artist statement Ming Wong, ia menjelaskan bahwa karya ini "menelusuri upaya saya mengadopsi suatu bahasa dan sifat budaya 'asing'". Ternyata Ming Wong tidak terlalu fasih berbahasa Melayu. Ia juga memberikan latar belakang kenapa ia memilih meniru film-film P.Ramlee. Film-film artis Melayu Muslim ini sangat ikonik dan dibuat antara tahun 1950-1970. "Film-film itu kini disensor oleh pihak berwenang Malaysia karena ada adegan-adegan orang berciuman, berselingkuh, telanjang, memaki, korupsi, minum-minum, merokok, berjudi dsb., sesuai dengan konservatisme yang kini meraja dalam masyarakat Melayu Muslim saat ini."

Sepertinya fakta yang terakhir itu sangat menarik buat Ming Wong hingga ia akhirnya membuat karya ini. Dan, Ming Wong juga berhasil membuat saya tertarik, plus terhibur.

Di dekat karya Ming Wong, dalam sebuah ruangan tersendiri adalah karya instalasi Videobabes, yang biar namanya ngInggris tapi asli Indonesia. Dengan proyektor ditembakkan dua gambar yang berbeda, masing-masing di dinding yang berseberangan. Di lantai digambar denah dengan garis hijau, setting rumah petak yang sangat sangat sempit. Walaupun tak berbatas dinding, saya sempat merasa pengap dan klaustrofobik dalam rumah petak Videobabes ini hihihi... Sayangnya tidak ada keterangan mengenai karya ini di katalog selain judulnya, "Saat ini, di tempat itu. Saat itu, di tempat ini."


Lalu saya suka karya Sekar Jatiningrum yang menggunakan pensil di atas kertas. Keren sekali. Di ruangan yang sama, di dinding seberangnya, ada karya Nadiah Bamadhaj. "Harus Lewat Gapura" pakai medium carkul di atas kertas berupa gambar medusa. Lalu kertas tersebut dibingkai yang di bingkainya dicetak dengan laser gambar gapura. Yang bikin wow, waktu didekati, oh oh, ternyata bukan sekedar carkul di atas kertas, tapi kertasnya dibuat bertekstur 3 dimensi. Seperti dengan teknik papertole tapi jelas lebih rumit. Keren!

Masih saya suka karya Jompet, "Java's Machine Phantasmagoria", tapi karena sudah pernah melihat sebelumnya, tak sesedap seperti saat belum pernah melihatnya sama sekali. Hehe.


Saya suka karya Sara Nuytemans, berupa instalasi video. Sayang sekali malam itu tidak hujan, jadi untuk melihat betapa kerennya instalasi video ini, kita harus menyiram sebuah tiang dengan segayung air dan oh lihatlah itu si mbak-mbak dalam TV itu pun basah kuyup. Hihihi. Tapi, karya ini sebetulnya nggak seberapa dibandingkan karya-karya Sara yang sebelumnya.

Saya suka karya Tintin Wulia, instalasi yang sebagian prosesnya sempat saya saksikan saat Tintin ada di Jogja dalam program residensi di Pink Housenya Cemeti. Deretan paspor aneka negara yang halamannya penuh nyamuk njebrot. "Paspor adalah konstruksi artifisial yang tak pernah netral dari kepentingan kuasa. Ia tak pernah bisa memberikan kejelasan tentang dari mana kita berasal, dan mengapa kita punya perbedaan bahasa, warna kulit, dan agama." (catatan kurator, Agung Hujatnikajennong) Uhuy!


Saya suka goodiebag yang isinya katalog dan poster dan kaos JB warna putih sablon oranye yang seringkali nampak Marco Kusumawijaya memakainya di acara-acara pre-Biennale pekan-pekan yang lalu. Dan yang terakhir, saya suka katalognya yang berwarna oranye, minimalis, dan rapi.

Rapi. Itu dia.
Meskipun penutup acara pembukaan ini adalah acara disko-diskoan dengan LIVE DJ aneka macam, tapi acara ini tergolong cukup rapi. Cukup pantas untuk disebut ajang Internasional.

Pameran Seni Rupa Jakarta Biennale berlangsung tanggal 6 - 27 Februari 2009.

Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur No. 14
Jakarta 10110 - Indonesia

1 comment :

Rima and Her Crazee World said...

thx ya udah berkunjung ke blog saya.. ^_^
wakytu itu saya ke GNI sepulang kantor dan 2 dari 4 gedung pameran udah tutup.. yang paling saya suka Jompet.. waktu itu suasana agak mendukung aja.. malem hari, sepi pengunjung (cuma saya dan teman malahan), friday 13th juga.. hehe..
lain kali saya review deh di blog saya.. dari kmrn error truss mu upload fotonya..