About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

Ikhlas (katanya)

No comments
Preskon pertama dalam episode ini, gue datang atas nama undangan bos gue, dan di pintu depan sudah disambut dengan "Perlu dikasih nggak?" (as in press kit, asking to a supervisor standing by).

Di dalam hati gue: "Did I not just say I came on-behalf of my boss, and did the company I worked for is an official partner of the institution you worked for?" Don't answer these rethoric question, you petty second grade helper!

Sang pengawas itu menjawab "beri saja" dan gue pun berlalu dengan map di tangan tanpa memandang untuk berusaha mengingat tampang si cowok yang nanya tadi. See, master Ubi, I can be kind to others.

Di dalam gue duduk manis. Nggak kenal siapa-siapa adalah bukan masalah. Lalu selama berlangsungnya preskon itu terjadi beberapa hal.


Duta Festivalnya masih muda, saudara-saudara. Dua-duanya perempuan dan cantik. Yang pakai baju hitam sempat berpose untuk wartawan sebelum preskon dimulai. Yang pakai baju pink datang terlambat karena terjebak macet. Dua-duanya ketawa kecil yang nampak malu-malu di antara kalimat pendek yang harusnya menjawab pertanyaan wartawan tetapi tidak menjelaskan apa-apa. Hahaha... oh well... I'll just be nice and merely rolled my eyes.

TETAPI PARA TERSANGKA INI MENIRUKAN TAWA PARA DUTA FESTIVAL ITU, MEMBUATNYA MENJADI 20 KALI LIPAT LEBIH ANNOYING!

Tersangka pertama cewek pake terusan item dengan kafiyeh merah menjerat leher.
Miss Fashionable ini menjawab telpon genggamnya di pembukaan preskon dengan suara KENCANG. Baiklah gue nggak denger dering HPnya, tapi dia menjawabnya dengan volume suara yang malesin. "IYA, INI PRESKONNYA BARU MULAI. NTAR AJA YA TELPON LAGI."
Yang lebih juara lagi, di tengah preskon dia dan temen-temennya ngobrol dan ketawa-ketawa dengan volume suara yang kencang juga sampai gue nggak bisa denger Frederic Alliod yang di depan itu ngomong apa. Well done, Miss. Engkau sungguh sosok jurnalis idaman.

Tersangka kedua adalah mbak pake kerudung biru itu, which by the way look a bit pregnant, or not? whatever. Dia tidak mematikan dering HPnya. PLIS DONG AH!
Mbak kerudung biru menjadi runner-up ngobrol kenceng dengan temennya yang berambut panjang dan berbaju biru juga, dan sederet teman-temannya yang nggak tertangkap kamera gue.

Jadi gue ngapain? Gue pindah ke depan dan gue foto mereka dan gue posting di sini.

Kalau ada yang bisa ngasih tau siapa cewek-cewek itu dan mereka kerja buat siapa atau apa, silahkan... silahkan... informasi anda sangat berharga. Seriously.


Waktu pulang, pakai busway lagi, ada seorang cewek dengan dandanan Jepang menghampiri satgas TransJakarta di dekat konter tiket. "Kalau pintu ini tutup, kita naiknya dari mana?"

Now people, bayangkan Ayumi Hamasaki. Kalau belum bisa membayangkan, ini dia tampangnya :
Nah, dia hampir mirip kayak begitu, sama seperti halnya tas dari Mangga Dua merek GUCHI mirip dengan tas GUCCI.

Temannya yang berdandan hampir sama tetapi dalam derajat yang lebih ringan, melambaikan tangan dari tempatnya berdiri di dekat pintu geser, "Sini deh."
"Tapi yang itu ditutup. Itu gue baca di situ." Ayumi menunjuk ke arah kertas yang ditempel di pintu. Kertas itu berisi : Maaf atas ketidaknyamanan. Sedang ada perbaikan.

Pfft. Whatever. Bus datang. Gue masuk. Ayumi dan temannya tidak ikut masuk. Ayumi nampak bingung (tapi tetap ceria), temannya nampak malu. Well, she's a typical peroxide head, what can you say?

Gue transfer Dukuh Atas. Bus jurusan Ragunan penuh. Namanya juga transportasi umum. Di saat penuh berjejal begitu, naiklah dengan maksaaaa banget ya...dari halte Karet Setiabudi, seorang cewek rambut panjang dandan full... yang mengeluh-ngeluh "aduuuh... aaaah... aduuh..." waktu hampir kejepit pintu belakang bis pas nutup dan buka, dan waktu penumpang berhimpitan hampir tumpah waktu bes ngerem mendadak.
Cewek itu mungkin pengen flirt sama sekelompok pegawai negeri muda berseragam yang naik dari Halte GOR Sumantri sehingga dia melakukan simulasi suara orgasme seksual semacam itu.
Atau dia memang bodoh.
Atau gue yang bodoh karena merasa bete ngedenger dan ngeliat dia?

Yang jelas gue ikhlas nulisnya di sini.
Selamat menikmati.

No comments :