About Me

So, basically this blog was started by envy. Kulam Ikan Tetangga (the neighbor's fish pond) is a variation to the saying that goes "the neighbor's Grass is always greener". The Neighbor's Fish Pond will always have fatter and more fish (than your own fishpond). And so it is.

013

1 comment
RUANG, Sebuah Film Neraka Tak Berdasar.



Berdasarkan semacam keberuntungan dan demi pembelajaran, gue berkencan dengan Mml. Petite dan Mama Gorila, ke BIP, nonton Ruang. Sebuah film terbaru Teddy some-body yang sutradara Banyu Biru.

Tadinya gue nggak tau samasekali film apaan itu. Ya, gue taulah itu felem Endonesya, tapi nggak terlalu ngeh isinya apa dan siapa yang main dan kira-kira gue bakalan mengharapkan apa.

Iklannya lumayan sering sih di Prambors. Katanya drama gitu. Ada Slamet Rahardjo-nya. Wah... boljug kah ini?

Terus ada temen yang bilang,"oh, film yang Luna Maya sama Winky itu ya?"

Mama Gorila dan Mama Gajah berpandangan sambil menelan ludah lalu teriak bersama. Tapi ayolah Mama, marilah kita positive thinking. Memangnya kenapa kalo pemeran utamanya cantik dan tampan dan memiliki sejarah pribadi yang diungkap lugas dan pedas dalam tayangan infotainment?

Sambil positive thinking kami bertemu di BIP. Lalu naik ke lantai atas ke 21 theatrenya. Toh kami bertiga lantas sibuk menjejali tas dengan cemilan dan benda-benda yang sekiranya bisa jadi pelarian kalo di tengah-tengah kami bosan, muntah, atau pingsan.

Film dibuka dengan visual yang cukup menarik. Wah, batin gue, boleh juga nih. Mana belum apa-apa kami udah disuguhi Slamet Rahardjo yang sepanjang ingatan kami, selalu nampak tampan. Tambah matang tambah tampan...begitulah bisik Mml. Petite dan Mama Gajah. (sebetulnya yang satu menderita electra complex dan yang satunya mengidap semi-gerontofili). Slamet Rahardjo sampai ke sebuah rumah yang ternyata rumah adiknya (diperanin Reggy Lawalata) dan... dimulailah neraka kami.

Sudut pengambilan gambar tetap prima saudara-saudara, tapi kalau seandainya You don't speak English ou tu parlez pas Indonesien, nggak usah ngidupin pilihan sub-title! Argh, isinya mengerikan! Yang lebih mengerikan lagi, kalau kita nggak tahu apa yang mereka omongkan, kita juga nggak bakalan tahu apa yang sedang terjadi!

Agak ngenes ya, mengingat Les Faboulous destine de Amelie Poulant alias Amelie of MOntmartre, pertama kali gue nonton berbahasa asli dan I have no clue what the dialogue is all about those darned French! Bo tapi gue masih bisa ngerti ceritanya. Jadi, mas Teddy, ada apa dengan dirimu? Kamu kira kami semua tinggal di kepalamu kah? Sayang dong sama penonton!

Sepanjang felem itu gue menahan nafas. Bukan karena ketegangan tapi karena gue menahan diri dari mengumpat. Di limabelas menit terakhir gue menangis, bukan karena terharu tapi karena menahan gelisah ingin muntah. Dan begitu lampu menyala, I have never felt so relieved before from watching a movie...

Now, you may ask; KENAPA LU NGGAK KELUAR AJA HAH KALO NGGAK SUKA??

Yeh, kan gue masih berusaha memberi kesempatan untuk melihat, beneran nggak ini felem butut dari awal sampai akhir? Mungkin ada aspek yang menjelaskan kenapa felem itu bisa begitu, mungkin ada aspek yang meringankan kebututannya...? Kalo ternyata buah kesabaran gue adalah kenihilan, emang salah gue gitu? Salah temen-temen gue? Sakit jiwa lo!

Bo, gue nggak ngerti aspek mana dalam cerita drama itu yang mau ditonjolin. Apakah:

1. Fakta bahwa pemerannya semuanya nggak ada yang jelek dan dua pemeran utamanya punya hubungan yang cukup rumit di luar film yaitu bahwa sepupu si aktor dihamili oleh mantan pacar si aktris dan si aktor pernah mengancam (saat itu) pacar si aktris untuk bertanggungjawab kalo nggak pengen dihajar? (oops, pardon... nggak nyambung ya sama filmnya? tapi drama ini lebih seru dari drama lelaki ditinggal mati cinta sejati dan diwarisin anak hasil one-night stand)

2. Bahwa penonton seperti melihat tiga film yang nggak nyambung sama sekali saat melihat akting Slamet R - R Lawalata, Winky W - L Maya, Nungky K - ah siapa itu aktor tampan yang main jadi suaminya....

3. Bahwa banyak terdapat fakta dan artefak yang membingungkan untuk bagian setting tahun 50-an. Antara lain:

a. Nama tokoh Flori buat anak orang biasa-biasa aja, sementara Kinasih buat anak orang super kaya pemilik pulau. Nama Andhika yang sebetulnya hampir nggak dipake di era itu oleh orang Indonesia? Bo, nama itu baru banyak muncul tahun 60-an dan kemudian 90-an! What's wrong with you, Teddy! You named your previous mystery girl in Banyu Biru as "Sulak" and the actor and actress can hardly pronounce it! Padahal jij tahu dan menggunakan nama sebagai simbol dan doa.

b. Bahwa si tokoh utama yang bohemian, diperkirakan terpelajar, dan seorang penulis, NGGAK punya BUKU satupun di rumah pulaunya itu selain jurnal dia. Nggak ada jejak koran satu pun, atau apa pun juga yang mengindikasikan bahwa orang ini bisa BACA. WHAT THE HELL!!! Kayanya gue tahu deh kenapa skrip lu jadi butut, Ted. Read! READ! In the 50s everybody read karena yang punya TV cuma orang super kaya! semua penulis di dunia ini suka baca!

c. Bahwa sepedanya Chairil terlalu mengkilap.

d. Bahwa gaya bahasa semua tokoh yang berusia di bawah 30 tahun adalah gaya bahasa Jakarta tahun 2005. Di tiap scene yang isinya para muda mudi itu, kalo penonton merem, bisa kecele ngira itu film AADC atau yang sebangsanya. Man, hire a speech-coach! Kalo pelit ngirit, suruh para pemeran muda itu nongkrong bareng kakek nenek umur 60-an di panti asuhan selama dua bulan! Macam mana!!!

e. Bahwa baju Kinasih terlalu terbuka! Okelah gue tahu dia anak orang kaya yang kebarat-baratan dan pake baju rok terus sementara yang lain pake kain, tapi booo... di pulau? Orang Indonesia yang jantungan nyaris mati dari kecil therefore presumably nggak pernah tinggal di luar negeri selama beberapa waktu? Itu anak siang-siang bolong bersepeda pake lekbong??? Apa kamu gila? Melek Fashion? Di pulau? TV aja nggak ada! USE YOUR IMAGINATION dong! Riset kek!

f. Kalo males susah-susah nguningin kertas, jangan kira tekstur kertas recycle warna coklat bisa nipu mata penonton. Kamu pikir itu kualitas media film yang kamu pakai itu seburem apa ha?

g. Bahwa dua sahabat dari kecil yang terjebak dalam sebuah pertunangan dan cinta sepihak akan memiliki bahasa tubuh yang berbeda instead of garing kaya baru kenal kapan hari gitu.... You're a director, man, DIRECT!

h. Bahwa Lelaki PENULIS, BOHEMIAN, tahun 50an, yang jatuh cinta pada seorang cewek, dan kemudian tahu ceweknya itu sakit berat mau mati, nggak akan berkata:
--"ngapain sih kamu?" waktu liat ceweknya kaya' batuk dan nggak enak badan pas lagi jalan-jalan di hutan.
--"kamu sengaja menghindar" waktu liat ceweknya BASAH KUYUP, SETELAH BERSEPEDA DARI RUMAHNYA KE GUBUK PANTAI kamu, lalu mengusirnya, hanya untuk merayunya balik ke dalam gubuk dan tidur dengan kamu.
--"pulang sana" waktu kegep bapaknya cewek itu bahwa kalian abis setubuh sementara sebelumnya kamu udah ditegur sama bapaknya.

WTF!!! HAHHH!!??? I wonder!! Excuse Banyu Biru adalah bahwa itu mimpi... what's your excuse this time, Teddy somebody?Antah Berantah? Ahahaha... no kidding...
Or do you think your latest love interest will steal most of the limelights and thus the audience will forgive you and let you get away with all those craps?
SOme people actually pay to see some progress pada perfeleman Endonesya, lho! Jangan jadi kaya pemerintah ah. Bikin felem itu kan emang pekerjaan ngibulin penonton. Ngibul aja lu nggak bisa serius, gimana mau jadi sutradara beken!

1 comment :

firman widyasmara said...

wah review yang maha nih .. haha, maha dahsyat dan maha marah, tapi bukan mahanya Sang Maha ye hehehe

se-kotor itukah kubangan film berjudul RUANG? wahduh ... jadi mikir dua kali buat ikutan berkubang di situ, tadinya kepikir utk liat Madewa sampe Berbagi Suami ... jangan2 lebih mengerikan .. hiiy

tapi dari seluruh lajur cerita, gue salut berat atas nyalinya utk nonton film itu. sampe menangis pula. mungkin kalo ada reporter duduk sebelah elo bakal bikin berita ttg gimana menyentuhnya film Ruang berdasar kesaksiannya melihat salah satu penontonnya berlinang air mata. air mata dosa. hahahahaaaa.

ttg review. sering2lah bikin review segalak ini. kali aja mereka2 si tukang bikin film gak cuma jadi asal buat film atas nama 'demi memajukan film lokal'. makanya tuh, mulai dari nulis sampe seni berceritanya ditajemin ...

so? kapan akan menelurkan karya film sendiri? :) hehehe ditunggu.